Berbicara tentang sahabat merupakan siksaan tersendiri buat aku. Hai ini didasari kenyataan bahwa terkadang orang yang kita anggap sahabat justru hanya menganggap kita sekedar sebagai teman biasa. Seorang teman, sebut saja namanya Acong, pernah mengeluh bahwa temennya, kita sebut saja Yank (dari kata Yankie karena ke barat-baratan
) selalu mengeluh tentang segala hal kepadanya. Hampir pecah kepalaku mendengar cerita-ceritanya, tambah Acong. Aku kaget sekaget kagetnya. Sebab beberapa waktu yang lalu Yank pernah cerita kalo Acong adalah sahabat terbaiknya yang mampu mendengar segala keluh kesahnya. Yang selalu ada saat Yank membutuhkan. Aku sendiri melihat selama ini emang Cong-Yank sebagai laiknya pasangan yang ideal. Jika kamu menjadi Yank dan tau omongan Cong, apa yang akan kamu bilang?
Di dalam mobil di suatu perjalanan panjang menuju kota tempat lahirku, orang yang selama ini aku anggap sahabat dan (memang) beberapa waktu sempat berbeda kota bercerita tentang kehidupannya. Dia berkata bahwa sahabat-sahabatnya lah yang selama ini selalu mendukung ide-idenya dan membuatnya menjadi orang seperti sekarang ini. Namaku tidak sekali pun disebutnya. Shame on me ..
Cerita di atas masih ditambah dengan kenyataan bahwa suatu ketika orang yang aku anggap “temen biasa” ternyata dengan bangga menyebut diriku “sahabat”-nya. Bergetar aku mendengar hal itu. Suatu ke-malu-an yang sangat besar memukul diriku.
Kenyataan ini menyadarkan bahwa batas antara sebutan “teman” dan “sahabat” begitu tipisnya. Dan bahwa batasan antara “teman” dan ”sahabat” ternyata dibuat oleh diri kita aku sendiri. Ini juga menimbulkan pertanyaan baru, bolehkah aku menempatkan kata teman ato sahabat dalam sosok orang yang aku kenal ? Siapa yang memperbolehkan? Jika boleh, kapankah saat itu? Apa syarat seseorang boleh disebut teman ato disebut sahabat ?
What is a friend ? A single soul dwelling in two bodies.
Aristotle
Bahkan kata teman ato sahabat telah menjadi pertanyaan pada dahulu kala. Kata sahabat dalam pembatas buku yang aku punya bertulis : “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabat Nya (Yoh 15:13)” dan “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17)”. Ciri sahabat disini adalah kasih. Jika kasih menjadi ciri seorang sahabat berarti sahabat tidak selalu menjadi orang yang kita kenal. Sedangkan teman pastilah kita kenal. Begitukah ? Ato kita balik pertanyaan kita. Bagaimana kita bisa pantas disebut sahabat ? Ciri apakah yang melekat pada kita sehingga kita bisa disebut sahabat ? Kasih.. bersedia membantu dalam kesukaran.. memahami.. selalu ada.. memberi nasihat yang baik.. jujur.. tidak mengharap balasan .. pasti banyak kriteria yang bisa kita sematkan yang ujung-ujungnya malah membuat kita tidak layak disebut sahabat oleh orang lain.
Bagaimana dengan kriteria yang ini : bisa memahami maksud kita meski kita tidak secara tegas menyatakan maksud kita. Jika kita memegang perut, dia langsung memahami bahwa kita lapar dan mengajak makan.
sahabat yang baik kan .. Ato kriteria yang ini : bisa memberikan lebih dari yang kita harapkan. Jika kita bersedih, dia bisa mendengar keluh kesah kita dan bahkan membuat kita tertawa, melupakan kesedihan kita. Bagaimana kedua kriteria tadi? Bolehkah disebut kriteria sahabat yang baik?
Tentu saja boleh. Dan dengan jujur aku bisa menunjukkan siapa sosok yang pantas dijadikan sahabat jika kedua kriteria tadi kita jadikan patokan. Tau gak maksud kalimat di bawah ini :
Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
Emang ada mafia di senayan, siapa mafia di senayan, ada siapa saja di senayan, siapa tukang buat peraturan, serba tidak jelas maksud kalimat di atas. Tetapi “sahabat yang baik” juga mampu mengartikannya secara jelas bahkan lebih.
Bagaimana dengan berita ini tentang pengalihan fungsi hutan lindung menjadi kota. “Sahabat yang baik” tidak hanya mendukung bahkan lebih dari itu juga membuatnya menjadi sebuat hal yang benar sesuai peraturan. Suatu pemberian lebih dari yang diharapkan. Toh tidak sampai memberikan “nyawa” nya, cuma martabatnya.
Sahabat yang baik ada di senayan. Betuuull ?? (Zainuddin MZ : Mode ON)
Bagi aku pribadi seorang sahabat adalah yang mampu berkata “kamu salah” ketika aku melakukan kesalahan dan tidak membiarkannya dengan alasan “tidak enak mengatakannya”. Seorang sahabat bagiku adalah yang mampu membuatku menelan empedu jika memang akan membuatku sembuh. Seorang sahabat bagiku adalah yang tidak selalu mendukung setiap keinginanku tetapi mengingatkanku akan konsekwensi dari keputusanku. Seorang sahabat bagiku adalah Slank dengan lirik lagunya dan KPK dengan tindakannya. Sahabat adalah yang mempedulikan kita.
Oh ya, yang bingung dengan kode di gambar Our Friendship Story di atas ini artinya :
Once upon a time, I was lonely; looking for somebody; who would be like me in everyway; so that we two had something in common to do and say.Then I found you one day and said; “You will be my forever friend”; you made me so happy, you bright end up my life; we got along so well and had lots of fun in our own stride…
And now I just can not imagine what I would have done without you; for you are so wonderful, funny and sweet. You are my dream-come-true; so, dear friend, say you will always be there, to share in my good and bad times and to tell me ‘You care’.
Lihat, aku tidak membiarkanmu bingungkan. Aku peduli.





