Gambar apakah di atas?
Terkadang pikiran kita lebih duluan mengambil keputusan dari pada realita yang sebenarnya. Di atas adalah gambar buku terbuka. Sungguh beruntung yang langsung bisa menebaknya, Anda masih suci. Tetapi perlu perhatian bagi yang menebak salah, wah bisa jadi kita sepaham
Sebuah gambar memang bisa membelokkan persepsi seseorang atas suatu peristiwa. Sebuah gambar bisa mengandung sejuta makna. Bahkan bisa lebih bercerita dibandingkan beralinea kalimat yang terkadang malah berputar-putar tanpa jelas maksud kalimat itu. Dengan kalimat bertele-tele dan berbusa-busa pesan yang disampaikan bisa jadi lewat begitu saja. Ya semacam alinea ini.
Jika sebuah gambar bisa mengandung sejuta arti, bagaimana dengan sepenggal adegan. Misalnya adegan di sini. Banyak juga iklan-iklan yang membiarkan imajinasi pendengarnya ato pemirsanya ato penontonnya berkelana terlebih dahulu sebelum menyampaikan maksud dari iklan tersebut. Iklan-iklan rokok sudah dilarang untuk menampilkan adegan orang merokok dan juga gambar dari produk rokok itu sendiri, sehingga bagian iklannya menyiasati dengan menggantinya dengan iklan-iklan penuh kedamaian, kebahagiaan, kesuksesan, ato kejantanan untuk menampilkan citra produknya.
Dan bagaimana dengan kata-kata ? Susunan huruf tentu bisa diartikan bermacam-macam tergantung pada kebudayaan masyarakat setempat. Susunan huruf yang membentuk kata “pisang” tidak ada artinya bagi masyarakat inggris yang tidak memahami bahasa indonesia. Jika pun ada yang mencarinya di kamus, paling banter diartikan sebagai “banana”, tidak lebih. Namun bagi pergaulan di dunia malam di Indonesia (ato Jakarta deh), dalam kontek seksualitas, kata “pisang” bisa diartikan sebagai kemaluan pria. Gejala bahasa ini yang biasa disebut kiasan, terutama di komunitas orang Jawa begitu diagungkan. Ngono yo ngono ning ojo ngono, memang begitu tetapi ya jangan begitu. Suatu cara untuk bertindak ato berbicara secara halus, daripada mengatakan yang sebenarnya. Menjadi sensor dari moral masyarakat secara umum diterapkan. Tidak mengherankan kita lebih mengenal kata “tuna wicara” dari pada “bisu”, “penyesuaian harga minyak” dari pada “kenaikan harga minyak”, “tulalit” untuk “goblog” dan sebagainya.
Dewi Persik bermasalah dengan Dada.
Telah disebutkan bahwa sebuah kata bisa berarti banyak, bisa mempunyai konotasi yang beragam. Bagaimana dengan kalimat di atas ? Bagi yang belum tau tentang Dewi Persik silakan cari di wikipedia dulu. Dewi Persik adalah penyanyi dangdut. Musik dangdut sendiri merupakan jenis musik yang lebih enak dinikmati sambil bergoyang. Dewi Persik bisa bergoyang, goyangannya yahud, sehingga banyak digemari orang. Definisi goyang sendiri adalah gerakan pinggul. Umumnya ke kanan dan ke kiri, meski sekarang sudah banyak variasinya ke depan, ke belakang, berputar, patah-patah, bahkan naik turun. Jika tubuh bergoyang maka semua bagian tubuh yang lain pun ikut bergerak. Gerakan goyang yang bagus dapat terlihat jika setiap bagian tubuh bergerak serasi dan seirama dengan musiknya.
Saking seringnya Dewi Persik tampik bergoyang, banyak yang ingin memilikinya. Saking seringnya melihat Dewi Persik berdendang banyak yang merasa menjadi bagian dari dirinya. Bahkan kisah yang terbaru adalah peristiwa di pegangnya buah dada sang dewi ini oleh penggemarnya. Yang langsung disambut pukulan terarah penuh amarah ke dagu si pemegang dada. Dada sang dewi tentu bukan milik semua orang. Hanya suami sang dewi yang “boleh” memegang dada tadi. Tentu saja kemarahan sang dewi beralasan. Kita pun mungkin akan melakukan hal yang sama bahkan lebih.
Lho kok ngomongin dada sih Dit ? Gak sopan deh …
Oke deh, maaf. Mulai alinea ini kata “d***” diganti “kulit depan yang melindungi jantung”. Setuju ?
Gitu dong. Gak sopan .. gak pantes .. apalagi tanpa gambar
… halah
![]()
Kata “dada” ..ups .. “d***” eh “kulit depan yang melindungi jantung” bagi sebagian orang kurang sopan di dengar. Bagi kalangan kedokteran mungkin biasa. Bagi perenang yang menggunakan gaya d*** eh .. gaya “kulit depan yang melindungi jantung” tentu biasa diucapkan, tanpa menimbulkan konotasi negatif yang mengarah ke seksualitas, yang berujung pada pikiran kotor sebagai sumber dosa. Seharusnya suatu kata tidak dijadikan sebagai alasan kita untuk mulai berpikiran kotor. Seharusnya pikiran kotor itulah yang harus dimusnahkan. Janganlah kita menyalahkan sebuah kata untuk sesuatu yang ada di pikiran kita. Masak kata “dada” harus menjadi “d***” hanya karena pikiran kita yang kotor.
Lho kok jadi begini ?
Ya iyalah. Sebuah kata menjadi punya arti, jika berada dalam sebuah kalimat, ato jika kita imaginasikan berupa benda ato adegan dalam pikiran kita. Kata “dada” tidak lah harus menjadi najis, jika tidak dirangkai dengan maksud untuk membuat najis. Kalo alasannya soal moral, ini menjadi sangat susah. Jangan kemudian kata dada menjadi terlarang. Sama seperti yang ada pada gerakan penyanyi dangdut, jika bergoyang ya jangan dikonotasikan sebagai gerakan orang bersetubuh. Itu sudah mengkonotasikan gerakan tadi menjadi sebagai apa yang ada dalam pikiran kita. Jika pikiran kita jorok ya gerakan itu membirahikan kita, dan jika pikiran kita bagus ya gerakan tadi sekedar gerak tubuh menyemangat musik dangdut.
Dan kenapa sekarang banyak hal yang tidak berkonotasi negatif alias wajar menjadi terlarang, hanya karena kita ingin agar pikiran jorok kita tidak terbaca? Masalah moral telah menjadi urusan kriminal.
Oh ya, kalimat di atas yang berhuruf tebal adalah tidak berhubungan dengan kasus dada Dewi Persik yang dipegang tadi. Tetapi, jika goyang dangdut menjadi terlarang, ubah juga namamu menjadi “kulit depan pelindung jantung” rosada. Karena setiap namamu di sebut orang juga sudah berkonotasi jorok. Itu kaitannya. Jika tidak … kok malah maling teriak maling mirip jeruk makan jeruk ya ..





