perjalanan @nova

Tolong aku kawan dan atau tolonglah dia juga

Mei 17, 2008 · & Komentar

Niat awal sih mau seneng-seneng ketemu temen-temen yang biasa saling sapa di dunia maya. Kenal lebih deket dengan pak Sawali dan minta tanda tangan atas buku kumpulan cerpen yang telah diterbitkan. Sesuai undangan berita disini maka acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Satu tempat yang merupakan markas besar beragam komunitas seniman yang telah kondang ke manca negara. Disinilah aku pernah menonton teater yang sampai sekarang masih terngiang kalimat-kalimatnya. Disini tempat angker, sakral, dan sekaligus membanggakan. Bergetar sewaktu aku masuk ke halamannya. Akan tetapi disana malah tergelitik oleh suasana beberapa kejadian yang ada.

Ini hal yang asing bagi aku. Jadi aku sebagai orang umum datang ke suatu komunitas satra. Tentu saja aku sudah mempunyai beragam ekspektasi, beragam bayangan tentang suasana dan keadaan disana. Tempat yang aku tuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ternyata melangsungkan peluncuran buku yang digagas Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan itu sekaligus menggelar diskusi dan pembacaan puisi dalam bahasa Melayu dan Mandarin, pembacaan cerpen dan musikalisasi puisi.

Sebelum duduk manis, aku sempat mengambil buletin Jurnal Boemipoetra. Baca-baca bentar, lha kok isinya cuma perang kalimat antara KSI lawan KUK. Tanpa cover both side. Enggak.. aku bukan anggota KUK. Tempat mereka juga gak tau. Yang mau aku bilang, bahwa jurnal ini mengandung energi negatif yang sangat besar. Bahkan untuk sekedar dibilang menunjukkan kesalahan-kesalahan KUK, ini sudah terlampau jauh. Tapi ini komunitas yang aku gak paham, sebuah dunia lain. Seberapa berat penderitaan KSI yang diakibatkan KUK jelas aku gak tau. Silakan saja.. cuma hawa negatif yang menyeruak dari halaman-halaman jurnal itu udah terlanjur aku hirup. Sruput.. masuk hidung, mengendap di otak.

Berikutnya, perkenalan dan pembacaan pusi dari sastrawan/penyair Malaysia. Sewaktu syair dan pusi dibacakan. Setiap mereka sebut kata Melayu, aku langsung teringat dengan kota Padang dan kebudayaannya. Setiap kata dari puisi yang diucapkan, aku teringat tambo dan syair pujangga sumatera. Ya.. tepatnya aku merasa itu bukan puisi Malaysia pak cik.. itu puisi ambo. Kebudayaan ambo yang pakcik lagi bace. Dan lama kelamaan aku mikir.. puisi Indonesia mana lagi yang dibajaknya kali ini. Ah.. pikiran negatif yang memalukan. Tolong aku kawan..

Berikutnya sesi tanya jawab. Beberapa orang di belakang udah berkomentar, jangan kasih bicara orang Malaysia itu, mereka senang bicara dan jika bicara panjang. Meski diucapkan sambil bercanda, otakku udah negatif saja.. tapi beneran lho panjang betul :) . Kembali, tolong aku kawan..

Kalimat yang diucapkan sebagai apresiasi tentang puisi yang ada di kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar menyebutkan bahwa puisi tersebut kebanyakan diilhami oleh perlakuan bangsa Israel dan Amerika terhadap saudara-saudara di Palestine dan dunia Arab. Aduh pak cik.. kita juga merasakan penderitaan saudara kita disana. Tapi tidak harus semuanya pakcik.. jangan jual penderitaan mereka untuk menaikkan pamor pakcik. Ah aku kembali berburuk sangka. Tolong aku kawan..

Bahkan nama Mahathir berulang kali disebut sebagai orang yang pantas sebagai perdana menteri. Meskipun sudah terlalu lama tetapi mereka telah merasakan betapai berbahagianya mereka saat dipimpin oleh Mahathir. Berbeda dengan sekarang setelah Barisan Nasional kehilangan banyak kursi, keadaan bukannya semakin baik tapi malah semakin buruk. Aduh pakcik, kau terlalu nyaman dengan duniamu. Liat baik-baik pakcik, puisimu terlalu sederhana. Tidak berapi-api seperti Chairil Anwar. Liat kesenianmu pakcik, tidak berkembang. Kau cuma ambil dari negara lain yang kebetulan saat ini aku jadi warga negaranya. Aduh.. do not judge dit.. Iya.. iya.. aku tau. Ini meluncur saja. Tolong aku kawan.. energi negatif ini telah menyelimutiku.

Tak taunya beberapa teman disana berpendapat sama. Berbeda dengan aku yang sudah dialiri energi negatif perselisihan KSI dan KUK. Temen-temn nampaknya lebih berpikir nalar dan langsung menanyakan hal-hal tadi sama mereka. Mengapa puisi mereka tidak ada yang membela TKI, mengapa hanya memuji pemerintah, mengapa kesenian disana tidak berkembang, mengapa dan mengapa yang lain? Ah teman-teman yang baik.. gimana caranya menyingkirkan energi negatif ini..

Jawabannya pakcik dan makcik adalah mereka tidak dapat berkreasi secara bebas seperti kawan-kawan di Indonesia karena adanya Undang-undang Keamanan dalam Negeri (ISA) Malaysia. Inilah yang membelengggu mereka. Lho.. di Indonesia juga ada KUHP yang mengatur tentang subsversif tetapi di sini jika pemerintah bersalah kita boleh kok berpendapat berbeda, takut adalah pupuk semangat kami pakcik. Janganlah kenyaman kecil yang kalian terima malah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan. Hanya akan membuat kita kalian tidak beranjak dan tidak mau berubah. Ingat kah pakcik dan makcik akan cerita katak yang direbus dalam air di panci. Panas yang pelahan-lahan membuat sang katak hanya merasa hangat dan lama-kelamaan mati karena panasnya. Katak tidak berusaha keluar karena nyaman dengan kehangatannya.

Tidak pakcik dan makcik, saya tidak bilang kalian sebagai katak. Apalagi menyebut sebagai katak dalam tempurung. Tempurung kenyamanan, karena wabah internet sekarang ini telah membuat tempurung menjadi tak berarti. Kecuali jika si katak dalam tempurung itu merasa bahwa tempurunglah dunianya, itu lain cerita. Tapi jika demikian demikian jawab pakcik dan makcik tadi, bahwa ada ISA disana, maka tolonglah dia kawan.. mereka lebih membutuhkan pertolongan itu. Mereka berada dalam tempurung ketakutan energi negatif dan tidak menyadarinya. Ah pakcik.. aku kasihan padamu.

(Tapi tetap kembalikan budaya kami pakcik, meski tak kami rawat, tetapi itu tetap bukan budaya kalian. Jangan copy paste sembarangan. Ask First! Before using may blog’s culture’s content. I might say yes!)

*sedang semedi untuk membuang pikiran kotor menetralkan pikiran*

Berita terkait :
di surat kabar KOMPAS

Kategori: perjalanan (diri)
Ditandai: , ,

Sawali “perempuan bergaun putih” Tuhusetya dan kopi darat pertama

Mei 17, 2008 · & Komentar

Ini kali ketiga aku ke TIM. Pertama, taon 1990 ketika widyawisata SMP dan mampir ke Planetarium. Kedua, taon 2002 sewaktu nonton teater (lupa judulnya, yang jelas bagus). Dan ketiga, peluncuran buku kumpulan cerpen pak Sawali, Perempuan Bergaun Putih, Jumat 16 Mei 2008 kemaren.

Dateng jam 13.45 telat dikit. Ojeg yang aku naikin dari Pluit pelan banget jalannya. Sambil pegang setir stang, si tukang ojegnya cerita kalo dia barusan coba nyicil motor jadi tukang ojeg setelah sebelumnya kuli bangunan. Aku hanya meniyakan saja. Sampai lampu merah stasiun kota, dia nanya “kita lurus ato belok kiri?” Lho.. “Lurus aja pak, nanti di Gambir baru belok kiri”, sahutku masih tanda tanya. Akhirnya kita lurus melewati Glodok. Di lampu merah pertigaan Mangga Besar, kembali terdengar suara ,”Kita lurus ato belok kiri?” … :roll:

Gak usahlah “kita lurus ato belok kirinya dibahas”.. gak penting selain kasian bagi yang fakir bandwith karena ada lebih dari 10 lampu merah menuju TIM. Dan jangan ditanya apakah si tukang ojeg itu bisa kembali ke tempat mangkalnya lagi, karena dia sempet bilang belum pernah ke TIM. Dan tentu saja bukan masalah kalo dia gak tau jalan, aku sih hapal.. tapi pengakuan bahwa dia baru bisa megang motor itu yang bikin was-was.

Kembali ke TIM, setelah muter-muter di komplek TIM, baru tau kalo PBS HB Jassin itu agak menyelinap disamping Planetarium. Naik tangga, masuk dan … kaget. Lho bukan acaranya pak Sawali thok tho.. Banyak orang bertampang seniman disana. Cari tempat duduk. Search mode ON. Kata kunci “kumis” …. malah dapetnya si Farhan. Soalnya si kumis lagi hadap depan jadi gak keliatan kumisnya. Kebetulan si Farhan ke belakang, samperin, kenalin diri, ditunjukkanlah sosok ganteng berkumis berbaju ungu. Ungu ?! Ivan Gunawan banget ya.. :lol: Langsung gak berani nyamper… :)

Duduk manis lagi, ambil tustel ceprat cepret kalo ada yang aneh dan lucu. Kesempatan lapor dateng, ketika si kumis pak Sawali ngrokok ke belakang. Samperin, lapor, ngobrol lah. Kaku awalnya, khas aku (minder mode ON). Lama-lama lancar.. sampai akhirnya beliau duduk lagi ke barisan depan. Oh ya, ada tiga acara disana, dan pak Sawali merupakan acara ke dua. Acara pertama yang bikin bete (ntar deh diomongin kenapa bete) berlangsung bertaon-taon berjam-jam. Dan jam 16.00 baru acara pak Sawali berlangsung. Dimulai dengan pembacaan cerpen “Perempuan Bergaun Putih” oleh mbak Putri Miranda dan dilanjutkan kritik oleh Kurnia Efendy dan tanya jawab. Saat inilah baru keliatan bahwa sosok Sawali lah yang bikin acara banyak penontonnya. Kelompok blogger di sisi kiri terlihat menonjol dibanding penonton yang lain. Tepuk tangan paling keras, ketawa paling lebar, dan wajah-wajah yang tersenyum tanpa tegang. Oh ya, aku di sebelah kanan, masih minder, belum berani gabung.

bedah buku
Skip..skip..skip… dalam sambutan atas peluncuran buku kumpulan cerpennya ini, pak Sawali sempat menyebutkan beberapa nama blogger kondang yang merupakan pendorongnya untuk maju. Diantaranya Maman S.Mahayana, Hanna Fransisca, Edy Caplang, Kang Kombor, CY, Ridu, dan Faizal Putra, (maap kalo salah tulis, bukti berupa rekaman video ada kok) saat inilah kebersamaan dalam komunitas blog terbukti menguat dalam bentuk persahabatan dan lalu ikut mendorong terbitnya buku pak Sawali. Salut buat pak Sawali dan hormat pada sahabat-sahabatnya.

Setelah “acara resms” selesai, barulah suasana mencair. Saling memperkenalkan diri. Aku ikutlah.. dari pada dibilang untouchable :) Salaman kiri kanan depan belakang, wah.. kaget juga liat orang-orang top yang blog nya biasa aku liat .. aku sekarang ada sama mereka. gila man.. aku tersanjung ketika ketemu mas Dana.. wow blogger favorite ku, trus sis Chika.. lebih cantik aslinya dibanding gossipnya, trus mas Yudis, mas Suprie, mas Aris, mas Edy, mas Ade, mas Ridu, mas Imam, mbak Hanna, mas Nazieb, mas Ichan, mas Anggara dan mbak Ade istrinya.

oom sawali minta tanda tangannya dong ..Dilanjut photo-photo.. Dan tak lupa minta tanda tangan. :) Dibiasain ya bos.. nanti akan sering-sering dimintain tanda tangan seperti ini lho.

Kopi darat.

Atas ide bersama dan di backup habis oleh si mbak ayu Hanna, acara berlanjut di kantin TIM dengan makan besar. Dalam perjalanan menuju kantin inilah aku ketemu dengan rombongan dari Tobadream diantaranya Suhunan Situmorang, wow.. orang besar dengan tulisannya yang sering bikin heboh di blogberita, dan juga bang Shaut, dedengkot RCTI (kata bang Suhunan :) ).

Sambil makan ngobrol malah makin asyik, saling puji atas tulisan dan ucapan terimakasih atas pencerahan berhamburan. Bang Suhunan menampakkan rasa kaget dan sangat surprise bisa ketemu mas Dana. Meski demikian orang yang paling berbahagia saat itu jelas si kumis ganteng pak Sawali. :D

Sebagaimana sis Chika dah cerita , aku pamit duluan dalam acara makan dikantin itu. Masih ada acara lain yang musti didatengin. Yang dapat aku ambil dalam kopi darat tadi adalah rasa bangga, bahwa aku menjadi bagian dari mereka. Terimakasih ya temen-temen..
Aku berpisah jam 19.00

Btw, rencananya ada acara bedah buku pak Sawali di UI. Cuma waktunya belum tau, mungkin bisa dikoordinir untuk kumpul-kumpul lagi.

Catatan tambahan :

* Cerpen-cerpen Pak Sawali eksotis, kata pak Maman. Silakan dapetin di toko buku Gramedia. Jangan beli bajakan !!

* Klik gambar disamping untuk baca gratis cerpen Perempuan Bergaun Putih, dan cerpen yang lain yang tak kalah eksotisnya.
* Ini buku kedua ku yang ditandatangani penulisnya. Buku pertama, Kamus Bahasa Inggris yang ditandatangani Purwodarminto.
* Pak Sawali ternyata tidak kenal Ivan Gunawan. Warna baju disesuaikan sampul bukunya.
* Temenku barusan nelpon ngasih tau kalo si tukang ojeg telah sampai ke pangkalan ojegnya dengan selamat.
* Telah diupdate lagi untuk yang belum kesebut namanya padahal dateng.

Kategori: perjalanan (diri)
Ditandai: , ,