Niat awal sih mau seneng-seneng ketemu temen-temen yang biasa saling sapa di dunia maya. Kenal lebih deket dengan pak Sawali dan minta tanda tangan atas buku kumpulan cerpen yang telah diterbitkan. Sesuai undangan berita disini maka acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Satu tempat yang merupakan markas besar beragam komunitas seniman yang telah kondang ke manca negara. Disinilah aku pernah menonton teater yang sampai sekarang masih terngiang kalimat-kalimatnya. Disini tempat angker, sakral, dan sekaligus membanggakan. Bergetar sewaktu aku masuk ke halamannya. Akan tetapi disana malah tergelitik oleh suasana beberapa kejadian yang ada.
Ini hal yang asing bagi aku. Jadi aku sebagai orang umum datang ke suatu komunitas satra. Tentu saja aku sudah mempunyai beragam ekspektasi, beragam bayangan tentang suasana dan keadaan disana. Tempat yang aku tuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ternyata melangsungkan peluncuran buku yang digagas Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan itu sekaligus menggelar diskusi dan pembacaan puisi dalam bahasa Melayu dan Mandarin, pembacaan cerpen dan musikalisasi puisi.
Sebelum duduk manis, aku sempat mengambil buletin Jurnal Boemipoetra. Baca-baca bentar, lha kok isinya cuma perang kalimat antara KSI lawan KUK. Tanpa cover both side. Enggak.. aku bukan anggota KUK. Tempat mereka juga gak tau. Yang mau aku bilang, bahwa jurnal ini mengandung energi negatif yang sangat besar. Bahkan untuk sekedar dibilang menunjukkan kesalahan-kesalahan KUK, ini sudah terlampau jauh. Tapi ini komunitas yang aku gak paham, sebuah dunia lain. Seberapa berat penderitaan KSI yang diakibatkan KUK jelas aku gak tau. Silakan saja.. cuma hawa negatif yang menyeruak dari halaman-halaman jurnal itu udah terlanjur aku hirup. Sruput.. masuk hidung, mengendap di otak.
Berikutnya, perkenalan dan pembacaan pusi dari sastrawan/penyair Malaysia. Sewaktu syair dan pusi dibacakan. Setiap mereka sebut kata Melayu, aku langsung teringat dengan kota Padang dan kebudayaannya. Setiap kata dari puisi yang diucapkan, aku teringat tambo dan syair pujangga sumatera. Ya.. tepatnya aku merasa itu bukan puisi Malaysia pak cik.. itu puisi ambo. Kebudayaan ambo yang pakcik lagi bace. Dan lama kelamaan aku mikir.. puisi Indonesia mana lagi yang dibajaknya kali ini. Ah.. pikiran negatif yang memalukan. Tolong aku kawan..
Berikutnya sesi tanya jawab. Beberapa orang di belakang udah berkomentar, jangan kasih bicara orang Malaysia itu, mereka senang bicara dan jika bicara panjang. Meski diucapkan sambil bercanda, otakku udah negatif saja.. tapi beneran lho panjang betul
. Kembali, tolong aku kawan..
Kalimat yang diucapkan sebagai apresiasi tentang puisi yang ada di kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar menyebutkan bahwa puisi tersebut kebanyakan diilhami oleh perlakuan bangsa Israel dan Amerika terhadap saudara-saudara di Palestine dan dunia Arab. Aduh pak cik.. kita juga merasakan penderitaan saudara kita disana. Tapi tidak harus semuanya pakcik.. jangan jual penderitaan mereka untuk menaikkan pamor pakcik. Ah aku kembali berburuk sangka. Tolong aku kawan..
Bahkan nama Mahathir berulang kali disebut sebagai orang yang pantas sebagai perdana menteri. Meskipun sudah terlalu lama tetapi mereka telah merasakan betapai berbahagianya mereka saat dipimpin oleh Mahathir. Berbeda dengan sekarang setelah Barisan Nasional kehilangan banyak kursi, keadaan bukannya semakin baik tapi malah semakin buruk. Aduh pakcik, kau terlalu nyaman dengan duniamu. Liat baik-baik pakcik, puisimu terlalu sederhana. Tidak berapi-api seperti Chairil Anwar. Liat kesenianmu pakcik, tidak berkembang. Kau cuma ambil dari negara lain yang kebetulan saat ini aku jadi warga negaranya. Aduh.. do not judge dit.. Iya.. iya.. aku tau. Ini meluncur saja. Tolong aku kawan.. energi negatif ini telah menyelimutiku.
Tak taunya beberapa teman disana berpendapat sama. Berbeda dengan aku yang sudah dialiri energi negatif perselisihan KSI dan KUK. Temen-temn nampaknya lebih berpikir nalar dan langsung menanyakan hal-hal tadi sama mereka. Mengapa puisi mereka tidak ada yang membela TKI, mengapa hanya memuji pemerintah, mengapa kesenian disana tidak berkembang, mengapa dan mengapa yang lain? Ah teman-teman yang baik.. gimana caranya menyingkirkan energi negatif ini..
Jawabannya pakcik dan makcik adalah mereka tidak dapat berkreasi secara bebas seperti kawan-kawan di Indonesia karena adanya Undang-undang Keamanan dalam Negeri (ISA) Malaysia. Inilah yang membelengggu mereka. Lho.. di Indonesia juga ada KUHP yang mengatur tentang subsversif tetapi di sini jika pemerintah bersalah kita boleh kok berpendapat berbeda, takut adalah pupuk semangat kami pakcik. Janganlah kenyaman kecil yang kalian terima malah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan. Hanya akan membuat kita kalian tidak beranjak dan tidak mau berubah. Ingat kah pakcik dan makcik akan cerita katak yang direbus dalam air di panci. Panas yang pelahan-lahan membuat sang katak hanya merasa hangat dan lama-kelamaan mati karena panasnya. Katak tidak berusaha keluar karena nyaman dengan kehangatannya.
Tidak pakcik dan makcik, saya tidak bilang kalian sebagai katak. Apalagi menyebut sebagai katak dalam tempurung. Tempurung kenyamanan, karena wabah internet sekarang ini telah membuat tempurung menjadi tak berarti. Kecuali jika si katak dalam tempurung itu merasa bahwa tempurunglah dunianya, itu lain cerita. Tapi jika demikian demikian jawab pakcik dan makcik tadi, bahwa ada ISA disana, maka tolonglah dia kawan.. mereka lebih membutuhkan pertolongan itu. Mereka berada dalam tempurung ketakutan energi negatif dan tidak menyadarinya. Ah pakcik.. aku kasihan padamu.
(Tapi tetap kembalikan budaya kami pakcik, meski tak kami rawat, tetapi itu tetap bukan budaya kalian. Jangan copy paste sembarangan. Ask First! Before using may blog’s culture’s content. I might say yes!)
*sedang semedi untuk membuang pikiran kotor menetralkan pikiran*
Berita terkait :
di surat kabar KOMPAS






8 tanggapan so far ↓
Sawali “perempuan bergaun putih” Tuhusetya dan kopi darat pertama « perjalanan @nova // Mei 17, 2008 pada 10:28 pm |
[...] am I .. ← BBM naik.. prasangka buruk dan tindakan kita Tolong aku kawan dan atau tolonglah dia juga [...]
waterbomm // Mei 17, 2008 pada 10:31 pm |
terpesona sama musikalisasi puisinya **salut**
/* standing applause */
danalingga // Mei 18, 2008 pada 12:14 am |
Saya kemaren itu tidak bisa menikmati acaranya bro. Karena terlalu brisik. Dan akhirnya sayapun menyumbangkan kebrissikan itu. Apa memang selalu begitu ya acara di sana?
*meditasi merenung*
sluman slumun slamet // Mei 18, 2008 pada 12:43 am |
kalo UUITE gimana? :d
Sawali Tuhusetya // Mei 18, 2008 pada 8:26 am |
wew… ternyat postingan sebelumnya masih berlanjut di sini. waduh, ternyata ada juga tulisan ttg perselisihan antara KSI dan KUK, yak? walah, saya malah ndak baca tuh. sastra indonesia memang seperti itu, mas nin. perselisihan dan beda aliran itu bisa jadi sudah menjadi “trade-mark”-nya. kata para kritikus, pertentang antara dua kubu itu justru membuat pekembangan sastra indonesia mutakhir makin terpacu “adrenalin”-nya lantaran saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, wakakakaka …
Peluncuran Kumcer dan Kopdar Terselubung | CybeRiEdu™ // Mei 18, 2008 pada 1:33 pm |
[...] ketemu sama Mas Suprie, Nazieb, Om Caplang, dan untuk pertama kalinya ridu ketemu sama Mba Hanna, Mas Didit, Mas Ade, Mas Dana, trus dateng deh, Mas Yudis, Tante Chika, trus Mas Ichan. (Absen lengkapnya ada [...]
edratna // Mei 18, 2008 pada 7:30 pm |
Saya tak terlalu paham…KUK dan KSI sama-sama Indonesia? Mungkin pak Sawali yang bisa menjelaskan ya….
nindityo.com » Blog Archive » Sawali “perempuan bergaun putih” Tuhusetya dan kopi darat pertama // Juni 25, 2008 pada 4:06 pm |
[...] depan. Oh ya, ada tiga acara disana, dan pak Sawali merupakan acara ke dua. Acara pertama yang bikin bete (ntar deh diomongin kenapa bete) berlangsung bertaon-taon berjam-jam. Dan jam 16.00 baru acara pak [...]