nDeso, biasanya dipake untuk menyatakan bahwa suatu tindakan bersifat terbelakang dan tidak tau malu. Si Tukul Arwana yang paling ganteng sejagat itu sering mengatakan kata ndeso. Padanan yang sama dengan kata nDeso adalah Katro. Penggunaannya kata ndeso sekarang sudah tidak bersifat suatu tindakan tetapi juga wajah. Dan wajah ndeso tentu suatu ejekan yang dalem karena sukar diperbaiki meski sudah dilapis dengan bermacam riasan.
Ndeso tentu saja disematkan pada orang yang tinggal di kota, lha wong untuk merendahkan martaba je. Tapi tentu tidak berarti yang dilakukan orang desa tidak baik tetapi ini toh hanya ungkapan, hanya makian. Hampir mirip dengan makian (mirip) kere, bajingan, ato setan ya intinya merendahkan. Tetapi jika sikap perilaku ndeso ini terbentuk dari ketidaktauan ato ketidaksadaran ato kelalaian gimana dong
Ya tetep aja dibilang ndeso
Pernah bersikap ndeso?
Sapa sih yang gak pernah. Aku sering tuh. Yang masih keinget ketika pertama kalinya naik kereta Parahyangan ke Bandung, karena terpesona dengan keindahan pemandangan sepanjang perjalanan, aku sering menunjuk-nunjuk ke jendela, ada jembatan Belanda, ada sawah, ada lereng semua aku komentarin. Sampai akhirnya temen perjalananku bilang, diem napa sih Dit, ndeso banget
Lho, lha wong terkesima je, kok dibilang ndeso.
Pernah suatu kali temenku yang mendengar ceritaku menimpali. Dia biasanya bawa si cewek (saat masih pacaran) ke desa, di daerah Tegal sana, cuma setengah hari, singkat, dan tidak kemana-mana. Cuma di rumah ngobrol ama orang tua temenku. Seminggu setelah kawin barulah mereka agak lama di desa, 3 hari. Paginya, mereka jalan-jalan, ke pematang sawah. Romantis pokoknya, masih menebar senyum pada orang-orang yang lewat, maklum penganten baru.
Ketika sampai di sawah, istri temenku tadi bertanya pada suaminya, eh itu yang ijo-ijo taneman apa? Kok bagus banget, kayak rumput ya ..
Suaminya melihat yang ditunjuk istrinya dan cuma tersenyum sambil terus berjalan. Sewaktu bercerita, dia nanya ke aku, tau gak Dit, taneman apa yang ditunjuk istriku saat itu?
Jawabnya apa coba? Gak tau…
… Padi !
Wah, aku langsung geleng-geleng mendengarnya. Padi, ndeso ato ngota ya
Masak padi aja gak tau, lha selama ini emang makan apa?
Pengalaman temenku lain lagi, dia cewek. Karena sangat kepengen ketemu keluarga pacarnya, setelah merengek-rengek, akhirnya berangkatlah mereka berdua ke suatu desa di daerah Simo, Boyolali. Naik bis disambung jalan kaki, pake nyebrangin sungai lagi. Kesempatan gendong-gendongan. Wah pokoke seneng banget. Lha wong belum pernah ketemu sungai selebar dan sebesar itu. Sesampai di rumah sang pacar tentu saja bikin heboh. Anak laki di desa bawa perawan, wah tentu saja bikin repot. Semua kemewahan desa disajikan. Jagung rebus, tape ketan, tiwul, dan tak ketinggalan singkong bakar. Dicabutlah singkong terbesar yang ada untuk sang tamu istimewa tadi. Singkong bakar biasanya dibakar di tungku yang masih menggunakan kayu bakar.
Tungkunya mirip-mirip ama gambar disamping. Biasanya singkong dimasukkan berdesakan dengan kayu bakar. Dan ditunggui manual, yang duluan masuk ya duluan dikeluarkan. Proses pembuatan singkong bakar yang tanpa ditaburi bumbu tentu hanya menghasilkan singkong yang tawar tanpa rasa. Dan tentu saja seret. Musti bayak minum. Kebetulan yang ada adalah teh pahit. Temen tadi mulai berpikir, jika saja singkong ini ditabur gula pasir tentu lebih enak. Mau minta ama tuan rumah kok kayaknya manja, tapi kalo tidak ditabur ya kok gak manis. Dan mulailah mengendap-endap ke dapur mencari gula pasir.
Di desa tadi, gula pasir masih merupakan barang langka mewah. Umumnya memakai gula batu ato gula aren. Dan karena kemewahan itulah biasanya disimpan dalam wadah khusus. Berbekal pengetahuan ini, temenku mulai gerilya mencari gula pasir. Waktu mahgrib, saat sudah gelap dan petromaks belum mulai dinyalakan, adalah saat yang tepat. Siap-siap.. dan mulai mencari. Ketemulah satu toples di atas rak dapur, tuang dikit di lepek (piring kecil, red). Dan segera lari ke kamar. Misi sukses besar. Orang kota, pikirnya bangga, banyak akal dong.
Singkong bakar dikupas, dan langsung di tutulkan ke gula pasir tadi. Dalam keremangan senja, singkong digigit, dikecap rasanya dan… pahit sodara-sodara. Wah bener-bener singkong tua, gula sedikit tidak mampu memaniskan rasa. Dan diulangi dengan porsi totolan gula yang lebih banyak. Masih pahit. Malah semakin lama semakin pahit dan lidah serasa lengket. Penasaran di deketkannya piring kecil berisi gula tadi ke deket teplok, dan ternyata RINSO. Pantesan pahit..
Buru-buru lari ke kamar mandi untuk berkumur. Dan inilah masalah terbesar dia, Rinso ketemu air dan dikumur, tentu saja mumpluk.. berbuih. Dia bilang saat itu hampir nangis saking malu dan bingung dengan ke-ndeso-annya itu. Pahit di mulut, dikumur berbuih. Di bersihin pake handuk masih pahit dan dikumur berbuih lagi. Gimana dong …
Wah jangan ditanya perasaanku ketika mendengar ceritanya
Ngakak gak abis-abis.. Ini salah satu cerita yang selalu aku reply dalam memori ketika aku sedang malu karena melakukan tindakan ndeso, ato ketika sedang sedih. Suatu pengalaman yang asyik untuk selalu dikenang (dan di ceritakan ke orang lain tentu saja)
Kamu punya pengalaman ndeso?




