Monthly Archives: Februari 2008

Adil gak sih … kalo begini ..

Ada orang kerja dengan perjanjian dibayar satu juta per hari. Trus yang ngasih kerjaan masih cari orang lagi .. di tengah hari dilihatnya beberapa orang yang sedang menganggur dan ditawarinya kerja, mau, sehingga ada tambahan pekerja. Dan ketika hari telah sore dilihatnya masih ada orang yang menganggur di pasar, ditawari kerja, mau, dan datang untuk kerja. Semakin banyak orang yang bekerja di tempat itu.

Ketika malam tiba, semua orang mengantri untuk menerima upah. Yang datang sore hari dibayar satu juta, yang datang siang juga sama diberi satu juta. Ketika orang-orang yang datang pagi mengantri untuk mengambil upahnya, mereka terkejut karena dibayar satu juta. Wajar saja mereka berharap untuk mendapat upah yang lebih tinggi, bukannya mereka telah bekerja dari pagi dan tentu saja lebih lama. Akan tetapi orang yang memberi kerja malah berkata, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sejuta sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” *)

Konsep keadilan memang bukan sama rata sama rasa. Adil bisa dilihat dari bermacam sudut pandang. Dari sisi materi memang terlihat sisi “adil”-nya yaitu sama-sama 1 juta. Dari sisi beban kerja jelas lebih capek yang kerja sejak pagi, tetapi adil juga karena toh dia dibayar sesuai perjanjian. Bagi orang yang mendambakan pekerjaan sejak pagi sampai sore dan akhirnya mendapat pekerjaan tentu dirasa adil .. toh bekerja pada tuan yang sama.

Dalam konsep yang lebih luas, sosok pemberi kerja tentu sosok yang adil karena tidak membeda-bedakan pekerjanya. Dan dari keadilan yang diterapkannya dia menyadari bahwa pekerja yang telah bekerja sejak pagi sudah tidak mengkhawatirkan hari esoknya. Rasa mapan dengan diberi pekerjaan telah membuatnya bekerja dengan ringan. Rasa bebas dari kekhawatiran inilah yang telah “dijual” oleh si pemberi kerja. Rasa bangga telah dipilih bekerja sejak pagi ini juga yang “ditawarkan” oleh pemberi kerja. Dan jika para pekerjanya menyadari bahwa si pemberi kerja telah lebih memperhatikannya sejak pagi dibandingkan pekerja yang baru mendapat perhatiannya setelah sore hari maka tentu mereka tidak mengharapkan upah sebagai basis perhitungan. Tetapi perlindungan, kepercayaan, cinta, dan perhatian lah yang akan lebih dijadikan tolok ukur.

Orang yang telah bekerja sejak pagi telah memperoleh kegembiraannya sejak pagi dan orang yang bekerja baru pada sore hari juga baru mendapatkan kegembiraan di sore itu juga. Lebih banyak kegembiraan dan sama-sama satu juta .. tentu dapat dilihat bahwa orang yang bekerja lebih pagi telah mendapat “lebih” dibanding kawannya yang baru bekerja di sore hari.

Oh ya .. kenapa sih soal adil ini dibahas begitu mbulet .. ? Karena sore kemaren aku ketempatan APP di lingkungan dan inilah yang bisa aku bagikan.

*) Mat 20:1-16

Iklan

Orgasme Komentar dan Komentar Silaturahmi

Salah satu forum yang aku ikuti lagi marak bahas tentang “single line post” yaitu suatu komentar tapi cuma sebaris, semacam : “bagus.. ” , “lagi dong..” , “pertamax”, ato cuma lambang semacam šŸ™‚ ato šŸ˜› . Salah satu alasan pihak moderator adalah komentar semacam ini hanya akan memberatkan bandwith. Ada lagi, komentar “single post” itu cuma bikin bete. Bagaimana gak bete kalo lagi baca artikel bagus, komentar atas artikel itu hanya kalimat pendek berupa : “PERTAMAX”. Bikin yang baca aja bete apalagi yang nulis (kalee…). Alasan lainnya adalah komentar semacam ini termasuk golongan junk post dan hanya ingin segera naik peringkat saja. Sebab banyak di antara forum-forum tersebut memberi peringkat kepada anggotanya berdasarkan banyak sedikitnya posting-an yang diberikan dalam forum.

Diskusi semakin menghangat ketika salah satu anggota berpendapat bahwa lebih baik melarang pengiriman video saja sebab ini lebih nyata membebani bandwith dibanding komentar. Dan bahwa terkadang satu simbol šŸ™‚ lebih berarti dari pada rentetan kata-kata yang tidak jelas maksudnya.

Apa sih yang diharapkan dari sebuah komentar ?

Dalam membuat suatu thread ato artikel baru, aku tidak mengharapkan suatu komentar yang menggunung … tapi tetap suatu komentar perlu bagi perjalananku. Aku hanya berusaha menulis apa yang sekarang ingin aku tulis … bahwa nanti banyak komentar itu soal kedua. Yang jelas perjalananku harus semakin berarti, minimal bagi diriku.

Beberapa thread yang aku buat dalam forum tersebut, memang mengundang banyak komentar. Sebagian karena kenal maka berkomentar, sebagian lagi karena berbeda pendapat, sebagian lagi karena setuju, dan sebagian karena pengen “nambah point” tadi. Bahkan ada salah satu thread yang aku buat ditutup oleh moderator karena malah jadi ajang serang mencari kecacatan masing-masing. Meski aku udah mengiba-iba (drama queen šŸ˜‰ ) sama moderator agar dihidupkan kembali (dan hanya mem-banned peng-komentar yang “garang”) tapi tidak berhasil dan tetep di tutup. Jika terjadi seperti ini kayaknya mending thread yang aku buat di komentari “PERTAMAX” sampai berjibun deh ..dari pada komentar yang bermutu dan panjang yang malah pada akhirnya “membakar lumbung padi dari pada mematikan tikusnya”.

Salah seorang blogger yang aku kagumi pernah menulis bahwa dia bukan type orang yang akan orgasme melihat banyak komentar masuk dalam blog nya. Mau sedikit ato banyak yang berkomentar dia akan tetap menulis dan menulis apa yang dia sukai. Tulis apa yang ingin ditulis hmm.. menarik juga .. cuma kalo yang ditulis gak menarik apa gak jadi semacam “junk article” ya .. ah biarin aja yang penting bukan komentar yang “junk comment” hehehe šŸ™‚. Toh ini lagi bahas komentar bukan artikel.

Seseorang yang lain menulis bahwa dia semakin sering menerima (dan mengirim) apa yang diistilahkan sebagai komentar silaturahmi. Komentar yang didasari rasa persaudaraan dan semacam “kewajiban” untuk saling memberikan komentar atas suatu thread ato artikel. Salah satu alasan untuk mengirim komentar semacam ini adalah “keberadaan”, menunjukkan bahwa “si aku” masih ada. Cuma lagi sibuk jadi cuma bisa kirim komentar dan bukan bikin artikel baru .. hehehe šŸ™‚

Setiap orang boleh membenarkan alasan apapun dibalik junk post ato single post. Bahwa terkadang post-post semacam itu yang membuat suatu blog menarik dan bukan komentar berbobot yang malah membuat sang artikel menjadi kerdil.

Dan bagaimana dengan artikel ini .. apakah kamu akan membuat menjadi kerdil ato malah cuma sebaris komentar bernada jerih ..

Terserah … mau silaturahmi ato bikin aku orgasme .. ach ..

Renungan Harian dan Bacaan Harian

Hari ini seperti biasa aku mendapat kiriman email berisi renungan harian. Dan seperti biasa juga dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Seperti biasanya juga aku langsung lari ke bahasa Indonesia nya. šŸ™‚ Ya namanya renungan kan harus direnungkan dong.. masak musti dipelajari .. kalo bahasa Inggris kan musti buka kamus.. cari arti dulu.. cek sama Indonesianya, perlu diartiin mentah-mentah ato dicari di bagian idiom nya, dll… yang malah bikin makna renungannya jadi tidak dapat. (ngeles : mode on)

Namun email masuk berikutnya, yang merupakan reply dari renungan tadi, membikin aku sedikit belajar (akhirnya šŸ™‚ ). Temen tadi cuma me-repply, kok inggris dan indonesianya artinya beda jauh ya .. Dan langsung ada yang me-repply dengan kalimat .. iya nih lebih “mantep” pake bahasa inggris nya .. soul-nya dapet. Aku yang baca langsung membatin .. waduh nerjemahin artinya aja pusing boro-boro ketemu soul .. hehehe … (sambil buka kamus cari arti kata soul .. oke berlebihan šŸ˜› )

Berbulan yang lalu, dalam acara obrolan santai di kereta api AC menuju Pondok Ranji setelah pulang kantor, salah satu temen pernah menyinggung bahwa kamus Indonesia Inggris terbagus dan terbesar adalah Alkitab (bahasa Inggris) dengan terjemahan (Indonesia)-nya. Soal bener enggaknya ya gak tau.. sementara bolehlah dipahami bahwa tentu saja banyak kata, rangkaian kata, dan idiom dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, jadi diassumsikan bahwa semakin banyak kata semakin banyak terjemahan… hmm ..bolehlah analoginya. Tapi kalo artinya beda jauh berarti terjemahannya yang ngaco dong .. Lho emang ada yang beda ??? (jelas ada karena di atas telah disinggung).

Nih sebagai contoh :

Kisah Para Rasul 9:31
Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.

Acts of the Apostles 9:31
31 So the church throughout all Judea and Galilee and Samaria had peace and was built up; and walking in the fear of the Lord and in the comfort of the Holy Spirit it was multiplied.

Kata “church” biasanya dipahami sebagai gereja tapi disini sebagai jemaat.

Oke jika ada perbedaan seperti itu .. trus apakah musti kita baca semuanya dalam bahasa Inggris supaya bisa dapet arti ato “soul” yang bener ?

Oh..tidak begitu maksudku .. ini hanya untuk memperjelas bahwa Kitab Suci bukannya semata-mata Kamus terbesar. Lagian kata siapa Kitab Suci awalnya pake bahasa Inggris. MemangĀ palingĀ baikĀ untuk membacaĀ KitabĀ SuciĀ kalauĀ tahu bahasaĀ asli (juga adat kebiasaaan dan situasi sejarah saat itu). TetapiĀ ini bukan suatu halĀ yangĀ gampangĀ atauĀ mudahĀ dilaksanakan. BahkanĀ harusĀ dikatakanĀ bahwaĀ untuk kebanyakan orang, ini hampir mustahil, tidak ada kesempatan, tidak adaĀ waktuĀ dan juga tidak adaĀ pendidikan dasarĀ untukĀ itu.Ā Maka sebaiknyaĀ ituĀ diserahkanĀ kepadaĀ paraĀ ahliĀ  saja.

Maka Kitab Suci tidak bisa semuanya dilihat dan dibaca sebagai satu ayat yang sambung menyambung menjadi sebuah kitab. Yang boleh diartikan ayat per ayat. Membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pun harus melihat tema dari bacaan tersebut. (Ck..ck.. keren kan kalimat gw .. šŸ™‚ ). Tema bacaan itulah yang yang merupakan “soul” nya. Inilah sebabnya aku tadi bilang belajar, sebab aku jadi berpikir kenapa yach kok aku baca renungan harian dan bukannya baca bacaan harian.

Renungan harian yang selalu aku terima via email selalu diawali oleh suatu kisah tentang pengalaman seseorang dan selalu dikaitkan dengan satu ato dua ayat dalam kitab suci. Jujur saja kisah-kisah itu selalu menyentuhku. Tapi bagaimana kisah tersebut menemukan ayatnya itu membuatku merasa bahwa ayat hanya digunakan sebagai “judge” pembenaran kisah tadi. Soalnya aku jadi berpikir jika aku punya pengalaman dan aku sisipin ayat suci didalamnya.. wah tentu pengalamanku akan menjadi pengalaman suci.. dan ujung-ujungnya aku orang suci juga ..hehehe… šŸ˜›

Berbeda dengan renungan harian, bacaan (Kitab Suci) harian umumnya telah ditetapkan ato terjadwal terlebih dahulu. Dan karena telah dibuat terlebih dahulu maka dapat diketahui tema harian dari bacaan itu.. tema bulanan.. bahkan tema untuk satu tahun. Bacaan harian tersebut kemudian dilengkapi dengan ulasan untuk dipahami, dihayati, sebagaimanaĀ dihayatiĀ olehĀ IsraelĀ  danĀ oleh jemaat perdana, dan dari penghayatan Kitab Suci itu kita harus tanya bagaimana dengan hidup kita sekarang.

Cara merenungkan bacaan harian gimana ya …

(a) Pertama-tama kita harus tahu dengan jelas apa sebetulnya tema yang oleh sang pengarang disini dibahas. Dan (b) kemudian kita harus tahu apa kebutuhan kita. Serta (c) akhirnya kita sendiri harus bertindak nyata di lingkungan sekitar sebagaimana isi dari Kitab Suci.

Pelajaran yang aku dapet sebagaimana telah aku singgung di atas adalah bahwa janganlah kisah hidup kita disandingkan dengan suatu ayat karena ini hanya akan “membenarkan” nya dihadapan Kitab Suci.

Gak percaya ? Liat aja sekeliling.

Blogdesk… menulis jadi lebih mudah

Ada kawan yang setengah gak percaya ketika tau aku punya blog. Dan tambah gak percaya lagi setelah aku bilang kalo aku “mengelola” beberapa blog. Dan efek kejut yang paling besar di dia adalah ketika melihat isi blog ku yang ini ternyata cuma ada satu buah post.

Ya minimal aku dah bikin jalan untuk membagi pikiranku dengan temen-temen blogger yang laen. Toh kalo aku kirim comment aku selalu menggunakan alamat blog ku yang bener, jelasku. Dan soal posting yang cuma atu itu emang karena terkendala oleh komputer kantor yang lemot banget .. so beberapa kali kejadian malah postingan yang aku upload gagal kirim dan .. akhirnya ya itu cuma ada satu post aja.

“Halah.. kan bisa di bikin dulu di word .. baru di upload.”

Eh, jangan salah ya.. aku bukannya gak mau bikin dulu di word. tapi word dengan segala kehebatannya malah jadi susah kalo nanti di upload. Dan selama ini aku menggunakan Keynote. Jadi jangan kaget ya kalo tiba-tiba banyak post baru di blog ku .. karena aku emang udah nyetok bahan bahan.

“Apaan tuh .. keynote?”

Sampai disini aja petikan omongan ku dengan kawan tadi.. toh dengan caraku obrolan bergeser ke keynote dan bukan soal satu buah posting-an tadi.. hehehe.. (yang penasaran dengan keynote silakan liat dari artikel bang Jarar karena aku juga tau dari abang itu)

Balik ke soal “single post” tadi … emang pada dasarnya sih males aja.. (moga kawan tadi gak baca šŸ™‚ ) tapi bukan Didit dong kalo gak bisa ngeles. Sampai suatu ketika sewaktu belajar ketemu istilah dengan blogdesk. Lho.. kok kayaknya asyik nih .. langsung download .. install … dan inilah tulisan pertama.

Blogdesk

Tentu bukan hanya sampai disini aja .. yang jelas beberapa (bukan “banyak” ya ..) bahan yang selama ini cuma ada di notepad dan keynote langsung di ubek-ubek lagi .. sambil uji coba dan cari-cari tempat belajar blogdesk lagi seperti di sini, di sana, dan di situ.

Makasih buat blogdesk .. makasih buat blogger yang ngasih ajaran ..dan makasih buat bos yang kebetulan lagi gak ada .. jadi langsung bisa praktek tanpa curi-curi waktu .. yang telah terbukti selama ini bikin males.

Kalo ada yang lebih baek dari blogdesk .. mbok saya dikasih tau biar pinter dan gak males nulis lagi .. sedemikian rupa supaya tidak ada lagi “blogger-blogger single post” ato “blogger-blogger comment” .. ya seperti saya ini … šŸ™‚