Monthly Archives: Maret 2008

Diam … sebuah nasehat yang sangat berharga

Sebuah cerita :
Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup. Anak laki-laki tersebut dibawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan di buka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut, jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menagis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut. Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.

Ketika cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. Sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Sebuah cerita indah yang mengajarkan tentang kedewasaan.
Tetapi bukan ini yang ingin aku bagikan.

Coba kita ganti, dalam cerita tersebut, kata “anak laki-laki” dengan “aku” dan kata “ayah” dengan “teman”. Sudah ?

Cerita tadi akan menjadi sebuah cerita tentang “teman” yang membiarkan “diriku” menjadi dewasa bukan dengan cara menolong kesulitan yang kuhadapi tetapi membiarkan aku untuk menghadapinya.

Hal seperti inilah yang baru saja aku alami.
Dalam satu kesempatan, seorang teman menyampaikan bahwa aku ditunjuk untuk melakukan tugas tertentu. Aku menolak. Pertama, aku belum pernah mencobanya. Kedua, aku tidak biasa melakukan hal seperti itu. Ketiga, aku tidak yakin bisa melakukannya. Keempat, .. kelima, .. dan seterusnya.. sudah aku ungkapkan kepada temanku. Aku harap bahwa dia akan menyampaikan kepada orang yang berkompeten sehingga acara akan berlangsung lebih bagus jika bukan aku yang harus melaksanakan tugas tadi. Teman tadi mendengarkanku dan hanya berkata bahwa dia yakin aku bisa melakukannya.

Berulang kali alasan itu aku sampaikan kepadanya tetapi dia tidak menanggapinya lagi dan malah membicarakan hal lain. Demi kebersamaan, aku tetap menemaninya mempersiapkan acara tersebut. Dan tugas yang dibebankan kepadaku tetap tidak diubah. Dia tidak menyinggung tentang “tugasku” tadi dan tidak membicarakannya. Padahal dia jagoan di bidang itu dan tentunya akan dapat memberikan kita-kiat dan nasehat agar aku dapat melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya. Saat itu, aku merasa ditinggalkan sendiri.

Menjelang hari H, … aku semakin panik.

Pada hari yang ditentukan, aku melaksanakan tugas tadi. Aku hanya berharap bahwa aku tidak mengacaukan tugas ini dan ingin acara cepat selesai. Acara berlangsung meriah (menurutku) dan ada banyak sukacita disana. Semua bergembira. Dan tau nggak .. aku menikmati tugas tadi 😳
Dan teman tadi dari awal sampai akhir ada di sisiku. Diam, tersenyum.

Kejadian ini mengajarkan aku bahwa “diam” menjadi suatu cara terbaik yang dilakukan temanku untuk mejawab “masalah” yang kuhadapi. Sepotong nasehat yang mungkin terucap dari bibirnya mungkin akan menenggelamkanku ke dalam ke-putus asa-an dari pada mengangkat bebanku. Diam yang dilakukannya lebih dari seribu nasehat yang mungkin diucapkan orang lain jika hal yang sama aku keluhkan. Sepotong nasehat hanya berguna saat aku orang siap untuk menerima nasehat tadi. Terimakasih atas pelajaran ini.

“Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.”

Teriring salam buat Anita Agustina dalam acara Paskahan DJP.

Iklan

Pria dan Wanita itu berbeda

Masih berkisar iklan teh Sariwangi dengan tema “mari nge-teh..mari bicara”. Pada iklan yang kedua ini tetap menonjolkan suasana kehangatan keluarga khususnya pasangan suami istri. Disini diceritakan tentang tentang telpon suami kepada istrinya untuk bertemu di sebuah tempat yang dikatakan sebagai “tempat favorite kita”. Pada waktu yang telah ditentukan, sang istri yang sudah berdandan cantik rapi wangi menunggu di tempat favorite nya yaitu restoran. Dan sang suami, diperlihatkan menunggunya di kamar tidur mereka sambil menabur mawar di atas kasur. Adegan berikutnya terlihat mereka saling diam di depan teve, marahan. Atas ide sang istri dibuatlah teh, dan akhirnya setelah nge-teh dan saling bicara, mereka jadi menertawakan ulah mereka.

Pada kali ini dengan jitu juga dibidik perbedaan pola pikir pria dan wanita. Ada banyak buku-buku yang membahas tentang hal ini, seperti “Why men don’t listen and why women cant read maps” dan “Man Are From Mars and Woman Are From Venus”. Dan ada banyak pendekatan untuk melihat perbedaan pria dan wanita. Salah satu yang paling menonjol adalah pendekatan fisik. Atokah karena fisik berbeda ini yang menyebabkan perbedaan pola pikir ..?

difference-men-women

Dari beberapa buku dikatakan bahwa wanita lebih banyak yang dipikirkan dan lebih menghitung untung rugi dibandingkan dengan pria. Pria cenderung lebih simple dan wanita lebih ribet rumit komplek.

Man vs Woman

Ada juga yang bilang kalo otak kepala pria lebih banyak tentang “sex” dibanding wanita. Gambar di atas umumnya untuk menunjukkan triger pria sehubungan dengan sex. Bahwa wanita butuh banyak hal untuk terlibat sex berbeda dengan pria. Liat aja contoh di iklan Sariwangi versi dua tadi. Sang suami  langsung berfikir tempat favorite adalah kamar tidur sedang sang istri adalah restoran. Tapi yang jelas perbedaan ini telah membuat banyak senyum terkembang.

emosi-suami-istri

Bahkan pernah dalam masing-masing buku hariannya, istri dan suami menulis begini :

BUKU HARIAN ISTERI

Minggu Malam
Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dengan teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.

Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ketempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan apa yang salah – dia jawab, “Tak ada”. Aku tanyakan apakah kesalahan ku yang membuatnya kesal.
Dia bilang hal ini tak ada kaitannya dengan ku dan minta aku nggak usah khawatir.

Dalam perjalanan pulang, ku bilang aku mencintainya, dia cuma tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tak bisa menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis pikir kenapa dia tak menjawab, “aku cinta kamu juga”. Sesampainya dirumah, aku merasa kehilangan dia, dan seolah-olah dia tak menghendaki ku lagi. Dia hanya duduk dan nonton depan TV; dia terlihat jauh dan menghilang…..

Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, kuputuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Hidupku serasa kiamat…

dan di buku harian suaminya tertulis :

BUKU HARIAN SUAMI

Hari ini REAL MADRID kalah. SIALAAANN!!!

😀 .. jangan marah ya .. ini kan contoh dari perbedaan pola pikir.. dan jika tersindir menyinggung ya mohon maaf. Sebab memang pria dan wanita berbeda. Dan dengan perbedaan ini maka pria dan wanita saling melengkapi .. betuuuul.. (Zainuddin MZ : mode on).
Oh ya ini ada contoh lagi .. tetapi emang terjadi ..bener-bener terjadi ..

Diary sang Suami
Hari ini mampir ke ATM Drive Thru..
Jendela mobil kuturunkan,
kartu ATM-nya ku masukkan,
Masukkan PIN-ku,
Ambil uangnya,
Dan nyetir lagi…

Diary sang Istri
Hari ini mampir ke mesin ATM Drive Thru..
Aku buka pintu, huh … berhentinya kejauhan..
Aku agak ribet cari ATM ku di tas jinjing yang kubawa..
Eh, ada make up.. make up-an dulu ah.. lipstick biar cakepan.. benerin rambut juga..
Aku masukkan kartu ATMku..
Eh, keluar lagi.. Ups..!! 😀
Aku masukin ATMnya kebalik.. hehe.. udah bener sekarang.
PIN-ku ?!? Eh, Dimana ku taruh ya ?!? Kayaknya di dompet..
cari dulu..!
Masukin PIN nya.. dah bener belum yah ?? Ups.. kurang satu..!
Masukin PIN sekali lagi.. Dah bener..
Dududududut..!! uangnya keluar.. Asyiik..
Masukin ke tas ya..
Aku kembali lagi ke mobil..
Astaga..!!!! Mundur..Mundur..!!!
ATM ku ketinggalan..!
Akhirnya….! sekarang aku jalan lagi..
Setelah 20 menit berkendara…

UPS !!! Lupa rem tangan.. !

Bisa diomelin suami nih kalo dia tahu.. !!!
…….hehehehe.. 😀

Nah jadi emang bener kan kalo pria dan wanita berbeda.. 😀 

do not judge.. be communicative.

Nb :
Kisah ATM di atas murni mirip sekali sebagaimana diceritakan AS kepada penulis dalam perjalanan dari Sudirman ke Bintaro. 😀

Do not judge .. be communicative!

@nova
do not judge
be communicative

Sering sekali aku menggunakan tiga baris kalimat di atas sebagai signature ato tanda tangan di bawah email ato SMS ato comment yang aku tulis. Ada sebuah ujar-ujar yang bilang bahwa orang jika membaca buku psikologi cenderung menerapkan buku tersebut ke orang lain dan jika membaca buku kesehatan selalu melihat ke diri sendiri. Dan karena ketiga baris kalimat di atas bukanlah suatu resep ato nama obat ato nama penyakit maka dianggap sebagai kalimat psikologi dan orang cenderung menempatkannya kepada orang lain. Dalam hal ini bermacam kejadian yang pernah aku alami.

Saat aku mempunyai atasan yang kurang disukai oleh anak buah, maka temen-temen bilang kalo itu merupakan bentuk protesku kepada si boss. Itu suatu sindiran buat boss agar melihat fakta dan tidak asal “njeplak”, timpal yang lain. Jika signature itu ada pada email, ada aja yang tanya, buat siapa sindiran signature ku ditujukan. Bahkan ada yang langsung ambil posisi dan menjelaskan panjang lebar tentang si A dan sebab-sebab kenapa si A kurang disukai. (Lha sapa yang nanya? 😡 )

Ada juga kejadian dimana seorang temen langsung minta maaf dan menjelaskan mengapa dia melakukan tindakan yang kemaren. Dan berharap “kita tetap berteman” dan menambahkan “masak begitu aja marah?” Tinggal aku yang bengong di depan SMS-nya. Kebetulan saat itu tiap kirim SMS aku selalu menggunakan signature tadi. Sejak kejadian itu SMS yang aku kirim tanpa signature.

finger

Menurutku signature tadi (aku lupa dari mana mendapatkannya) termasuk kalimat umum yang tidak menunjuk seseorang. Dan tidak seharusnya orang merasa tertunjuk. Ya minimal “be communicative” dulu lah ama diriku. Toh kalimatnya juga bilang begitu tho

Pada dasarnya makna signature ini hanya untukku pribadi sebagai penanda ato semacam tatto buat niat-niat yang aku inginkan. Juga sebagai “tamparan” karena tindakan-tindakan yang dulu pernah aku lakukan, terutama yang didasari emosi semata tanpa melihat fakta-fakta yang sesungguhnya.

Dulu enak aja menuduh orang sebagai si goblog, tanpa mencoba memahami kenapa si goblog bertindak seperti itu. Men-cap seseorang sebagai sok suci karena meski sembayang tetapi juga ke panti pijit. Dan lebih-lebih sering merasa paling benar karena orang lain melakukan sebuah kesalahan. Itulah alasan dibalik signature tadi.

judge bookKata do not judge bagiku lebih menunjuk ke dalam. Jangan menghakimi diri (ku) sendiri terlalu keras. Lakukanlah yang (menurutku) terbaik dan bukan menurut pendapat orang adalah yang terbaik (buatku). Banggalah dengan diri sendiri.

Be communicative dengan kenyataan, jangan dengan ilusi ato mimpi. Terkadang apa yang kita liat tidak seperti yang terlihat. Terkadang kita merasa tidak sanggup padahal setelah dijalani ternyata sangat mudah. Berkomunikasilah dengan cara belajar sebanyak-banyaknya. Serap sebanyak mungkin pengalaman sebagai bekal untuk menghakimi mengambil putusan.let's talk w/ trust

Tetapi kejadian-kejadian di atas juga menyadarkan bahwa orang cenderung merasa bahwa tindakannya selalu dilihat orang lain. Aku menyebutnya ge-er negatif. Selalu berpikir bahwa dirinya melakukan kesalahan. Dan nampaknya banyak sekali orang-orang seperti ini. Ada seorang temen yang merasa boss sedang marah sama dia karena dah lama tidak diajak makan siang. Aku yang kebetulan tau persis kesibukan boss langsung heran.

Juga pernah suatu sore, seorang kodektur di KRL Ciujung tidak menagih karcis kepada 2 orang penumpang kereta api, karena penumpang tersebut memang tidak membeli karcis. Kebetulan aku pas melihat ke arah kondektur tadi, bertatap mata, dan langsung aku menyadari bahwa posisinya sangat rumit. Mo nagih tapi galakan penumpangnya, tanpa sadar aku menggeleng kepala melihat tindakan si penumpang. Tetapi tanpa berkomunikasi tentu tidak mungkin si kondektur bisa mengerti maksudku. Gelengan kepalaku nampaknya dipahami sebagai mencela tindakannya, sehingga kemudian dia berbalik badan untuk berusaha menagih karcis si penumpang, dengan lebih gigih.

So nampaknya suatu kalimat (ato tindakan) mampu menjadi seperti pisau dengan dua sisi. Mampu mendorong semangat tetapi saat bersamaan juga mampu mengkerdilkan jiwa. Akhirnya .. coba kita lihat .. dari kedua sisinya.

Do not judge … diri sendiri terlalu keras; dan juga
Do not judge … orang lain tanpa dasar.
Be communicative … dengan kemampuan diri sendiri; dan juga
Be communicative … melihat alasan dibalik tindakan seseorang.

Nah.. kira-kira berguna gak ya artikel ini … ato gak ada yang baca ? Jangan-jangan ada yang marah trus gak kasih comment.. ato … ;D

halah :mrgreen:

Noah’s Ark – Perahu Nuh

Noah s A (2)
Gambar di atas masuk ke emailku dari sebuah milis yang aku ikuti.
Aku share .. sapa tau perlu..

Noah’s Ark
Everyting I nedd to know, I learned from Noah’s Ark

One : Don’t miss the boat.
Two : Remenber that we are all in the same boat.
Three : Plan ahead. It wasn’t raining when Noah built the Ark.
Four : Stay fit. When you’re 60 years old, someone may ask you to do
something really big
Five : Don’t listen to critics; just get on with the job that needs to be done.
Six : Build your future on high ground.
Seven : For safety’s sake, travel in pairs.
Eight : Speed isn’t always an advantage. The snails were on board with
the cheetahs.
Nine : When you’re stressed, float a while.
Ten : Remember, the Ark was built by amateurs; the Titanic by professionals.
Eleven : No matter the storm, when you are with God, there’s always
a rainbow waiting.

Met belajar ..

Teh dalam perkawinan .. mari bicara :)

teh hangatMungkin ada yang dah liat di teve kalo beberapa hari terakhir ini, Sariwangi mengeluarkan iklan dengan title “Mari nge-teh, mari bicara”. Iklan yang bagus banget, menurutku, dan juga menurut temen-temen ku sewaktu kita ngomongin iklan itu. Beberapa merujuk pada sosok istri dan yang lain pada sosok sang suami sebagai sosok yang “bagus”. Sedang yang lain menunjuk pada kekuatan tema yang disodorkan.

pociEh ya, sampai saat ini dah ada 2 buah iklan tersebut. Yang pertama tentang seorang istri yang marah pada suaminya setelah kran dapurnya bocor. Suami yang dimarahin tadi bukannya membetulkan kran tetapi meladeni kemarahan sang istri dengan ketidakpedulian. Sesaat sang istri menyadari ke-“salah”-annya, lalu membuat teh, dan mengubah cara bicaranya yang disambut antusias sang suami.

Bukan cara membikin teh, ato wujud tehnya yang cuma teh celup, tapi kehangatan kehidupan keluarga yang ditonjolkan. Suatu iklan yang hangat… sehangat teh Sariwangi. (Nama produk disebut sebagai pujian atas iklan tersebut 😀 ) Iklan tadi mengingatkan sebuah cerita yang pernah aku terima lewat email dan menjadi satu cerita yang mengagumkan tentang perkawinan.

Silakan dibaca.. sambil ngeteh lebih asyik.

~~~~~~~~~~

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya; Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku ujar suamiku. Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku. Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua!
Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Nb : cerita ini (dah lama) aku terima via email. Jika ada yang tau penulis aslinya, mohon aku dikasih tau. Terimakasih.

Sunset Policy – Pengampunan Pajak di UU KUP 2008

Salah satu pasal yang mendapat perhatian besar dalam pembahasan Rancangan Undang-undang tentang KUP (RUU KUP) adalah tentang Tax Amnesti atau Pengampunan Pajak. Dan ketika Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 sebagai perubahan UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) diundangkan, banyak yang memperhatikan ketentuan dalam pasal 37A dimana kebijakan ini merupakan versi mini dari program pengampunan pajak yang diminta kalangan usaha. Meski belum mampu memuaskan semua pihak tetapi kebijakan yang lebih dikenal dengan nama Sunset Policy ini telah menimbulkan kelegaan bagi banyak pihak.

Apa dan bagaimana Sunset Policy ini ?

Pasal 37A selengkapnya adalah sebagai berikut :

(1) Wajib Pajak yang menyampaikan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebelum Tahun Pajak 2007, yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar dan dilakukan paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah berlakunya Undang-Undang ini, dapat diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Penjelasan Pasal 37A
Ayat (1)
Cukup jelas.

(2) Wajib Pajak orang pribadi yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak paling lama 1 (satu) tahun setelah berlakunya Undang-Undang ini diberikan penghapusan sanksi administrasi atas pajak yang tidak atau kurang dibayar untuk Tahun Pajak sebelum diperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan tidak dilakukan pemeriksaan pajak, kecuali terdapat data atau keterangan yang menyatakan bahwa Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak tidak benar atau menyatakan lebih bayar.

Penjelasan Pasal 37A
Ayat (2)
Cukup jelas.

Berdasarkan kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 jenis pengampunan pajak yaitu :

  1. Pengurangan Atau Penghapusan Sanksi Administrasi Berupa Bunga Atas Pembetulan SPT Tahunan
       
    Diatur lebih lanjut dalam pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008
           
    Syarat dan ketentuan berlaku, yaitu :
    a. Untuk semua Wajib Pajak Badan maupun Orang Pribadi ; dan
    b. Yang telah memiliki NPWP ; dan
    c. Hanya SPT Tahunan sebelum tahun pajak 2007 ; dan
    d. Mengakibatkan PPh Yang Masih Harus Dibayar menjadi lebih besar; dan
    e. Kekurangannya harus sudah dilunasi sebelum pembetulan ; dan
    f. Berlaku sampai dengan 31 Desember 2008;
                                                
    Catatan :
    Meskipun jenis pengampunan yang diberikan berupa pengurangan atau penghapusan tetapi berdasarkan Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008 disebutkan bahwa sanksi bunga atas pembetulan SPT Tahunan di atas DIHAPUSKAN, bukan dikurangkan.
                                                                                                                              
    Dalam hal syarat-syarat di atas tidak dipenuhi maka berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 2 UU KUP, yaitu bunga sebesar 2% per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
                                                                                                          
  2. Penghapusan Sanksi Administrasi Atas Pajak Yang Tidak Atau Kurang Dibayar Untuk Tahun Pajak Sebelum Diperoleh NPWP Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
      
    Diatur lebih lanjut dalam pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008.
                                                            
    Syarat dan ketentuan berlaku, yaitu :
    a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi ; dan
    b. Yang belum memiliki NPWP ; dan
    c. Secara sukarela mendaftarkan diri memperoleh NPWP dalam tahun 2008 ; dan
    d. Untuk SPT Tahunan sebelum tahun pajak 2008 ; dan
    e. Mengakibatkan adanya PPh Yang Masih Harus Dibayar ; dan
    f. Kekurangannya harus sudah dilunasi sebelum menyampaikan SPT Tahunan ; dan
    g. Berlaku sampai dengan 31 Maret 2009;
                                                                         
    Catatan :
    Dalam hal syarat-syarat di atas tidak dipenuhi maka berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 UU KUP tentang Pemberian, Pengukuhan, dan Penghapusan NPWP.
                                                            
    Pasal 37 A UU KUP juga memberikan jaminan “tidak dilakukan pemeriksaan pajak, kecuali :
    a. terdapat data atau keterangan yang menyatakan bahwa Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak tidak benar , sesuai pasal 29 UU KUP.
    b. atau menyatakan lebih bayar, sesuai pasal 17 UU KUP

Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008 menyebutkan bahwa pemberian penghapusan sanksi administrasi ini dilakukan dengan cara tidak menerbitkan Surat Tagihan Pajak.

Efektif atau tidaknya program Sunset Policy ini akan terlihat dari penerimaan pajak di tahun 2008 yang ditargetkan dalam APBN 2008 sebesar Rp 591,98 triliun.

Note : juga di tulis untuk http://modernjakbar.wordpress.com

Apakah kamu Yesus ? … Selamat Paskah 2008

apelBeberapa tahun yang lalu, sekelompok salesman menghadiri sales meeting di Chicago. Mereka telah berjanji pada istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat. Namun ternyata meeting tersebut menghabiskan lebih banyak waktu dari yang diperkirakan dan molor dari waktu yang telah dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka di tangan, mereka berlari menyerobot pintu airport, tergesa-gesa mengejar penerbangan pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari mereka TIDAK SENGAJA menendang sebuah meja yang digunakan seorang gadis untuk menjual apel, dan apel-apel itu beterbangan.

Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-detik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis penjual apel tersebut. Ia berteriak kepada teman-temannya untuk pergi tanpa dirinya. Sambil melambaikan tangan, meminta salah satu temannya menelpon istrinya, bahwa ia akan mengambil penerbangan berikutnya.

apple & girlKemudian, ia kembali ke pintu terminal dimana banyak berceceran buah apel di lantai. Gadis penjual apel itu berumur 16 tahun dan TERNYATA BUTA ! Gadis itu sedang menangis sesenggukan, air matanya mengalir turun di pipinya. Dia sedang berusaha meraih buah buah apel yang bertebaran diantara kerumunan orang-orang yang berseliweran di sekitarnya. Tanpa seorangpun berhenti atau peduli untuk membantunya!
Salesman itu berlutut disampingnya, mengumpulkan apel-apel itu, menaruhnya kembali dalam keranjang. Dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu ia menyadari bahwa banyak apel yang rusak. Ia mulai menyortir apel yang rusak itu ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis tsb, “Ini ambillah US$20 untuk semua kerusakan apel ini. Apakah engkau tidak apa-apa? Gadis itu menggeleng, dengan masih berlinangan air mata.

Pria itu melanjutkan dengan, “Saya harap saya tidak merusak harimu dengan parah.” Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, “Tuan…..” Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, “APAKAH ENGKAU YESUS?” Pria itu terpana…..

Kemudian, dengan langkah yang lambat, ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara didalam hatinya, “Apakah engkau YESUS?”
Apakah orang-orang mengira bahwa engkau YESUS? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan YESUS sehingga setiap orang tidak melihat perbedaan ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih dan anugrah NYA.

Jika kita mengaku bahwa kita mengenal DIA, kita harus hidup, berjalan dan bertindak seperti YESUS. Mengenal YESUS adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari alkitab, atau hanya pergi ke gereja. Mengenal YESUS adalah MENGHIDUPKAN FIRMANNYA hari demi hari.

golgotaKita semua seperti buah apel di mata Allah.
Meskipun kita rusak dan cacat ketika kita terjatuh, Allah berhenti, mengerjakan dan mengangkat kita semua ke suatu bukit yang bernama Kalvari.
Allah membayar penuh semua kerusakan kita!

Oleh karena itu, marilah kita mulai menjalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkan Allah untuk kita.

Blessings on all of you!

Selamat paskah 2008.