Don’t judge a book by it’s cover ..

Terjemahan bebasnya adalah “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya”. ini tukul.. dan bukan photo saya.. jangan salah Akhir-akhir ini kalimat tersebut kembali di naik daun kan oleh presenter muda kita yang tak asing lagi dan tak ada duanya .. si ganteng dan terkenal seantero jagad raya .. kita sambut Tukul Arwana .. wah kok jadi kebawa suasananya ya🙂 Dalam kontek kalimat yang seperti diungkap oleh sang presenter, kita dibawa kedalam suatu pemahaman bahwa kita jangan sekali-kali melihat orang dari muka atau bahkan bibirnya tetapi dari apa yang ada di dalam hati (yang tentunya berujung pada tindakan kebaikannya).

Sudah banyak kita dapati ternyata orang yang mulutnya manis dan wajahnya ganteng ternyata penipu ulung (penonton bersorak : iyaa..), bandar narkoba (iyaaa..), koruptor kakap (iyaaaaa…), dan lain-lainnya (iyaaaaa…tepuk tangan).. yang menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang positif antara wajah ganteng dan perbutan baik. Meskipun kita sejak kecil juga sudah di didik tentang segala macam rupa setan hantu yang berwujud raksasa (kata Tukul sambil menunjuk Pepi), bertaring (nunjuk Pepi), rambut api (nunjuk Pepi), mata penyala (nunjuk Pepi), punggung berlubang (nunjuk Vega), yang menunjukkan bahwa wujud kejahatan adalah buruk (penonton menunjuk Tukul.. plok plok plok plok .. tepuk tangan bergema .. ) halah kok malah ngelantur sih.

Oke kembali ke lap… top!  :)  Pengalaman sering mengajar kita bahwa bukan cuma wajah ganteng yang tidak berkorelasi positif dengan kebaikan tetapi juga umur. Umur yang tua belum tentu berkorelasi dengan keputusan yang bijak. Terkadang kita seperti melihat sosok anak kecil yang terperangkap dalam wajah tua dan beruban. Terperangkap dalam umur yang setengah baya, yang sudah (seharusnya) matang. Ada sosok yang meski terlihat sudah berumur tetapi masih bermanja-manja dengan setiap wanita ato sosok direktur yang selalu ingin diperhatikan dan dipuji, bahkan mengambeg ketika pendapatnya disanggah anak buahnya.

Dalam kasus ini ada temen yang pernah bersaksi bahwa dulu dia memanggil seseorang dengan sebutan Mas, Mbak, Bang, Bapak, ato Ibu, dikarenakan sejak kecil diajarkan untuk selalu hormat pada yang lebih tua. Ajaran orang tuanya dirasa tidak relevan ketika dia di kantor bertemu dengan rekan kerjanya yang rata-rata sudah 10 – 15 taon di atas umurnya tetapi lebih senang maen game di komputer dari pada mengerjakan tugasnya, bangga pada dirinya atas prestasi yang kecil, berteriak kegirangan jika proyeknya berhasil, menggunjingkan atasan seakan dirinya tidak melakukan tindakan bodoh yang sama, dan beberapa tindakan lain yang menurutnya kekanak-kanakan. Sejak itu dia memanggil orang langsung dengan nama nya.

Tidak pantas sebutan Bapak ato Ibu kepada mereka karena tindakannya belum menunjukkan mereka sebagai sosok Bapak ato Ibu yang pantas untuk dihormati dan dihargai, jelasnya padaku.

Lho, tetapi kok sekarang kamu memanggil mereka tetap dengan sebutan Bapak ato Ibu, bahkan kamu memanggilku dengan sebutan Mas, ato jangan-jangan kamu menganggap aku pantas ya untuk disebut Mas, tanyaku sambil tersipu.

Eh .. emh ..bukannya kamu pantas untuk disebut Mas, meskipun udah cukup bijak sih (saat itu cupingku udah berkembang, malu) tapi aku pernah baca suatu buku yang mengatakan bahwa “panggilan yang kita sematkan pada orang bukan untuk menunjukkan orang itu siapa dia tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita. Untuk menunjukkan pola pikir kita, rasa hormat kita, dan bukan untuk menunjukkan bahwa dia jelek dan kita baik”. Jadi ya sekarang aku kembali ke ajaran nenek moyang bahwa kita musti hormat ama orang tua bahkan orang lain yang tidak kita kenal atopun yang lebih muda dari kita, jawabnya panjang lebar.

Jawaban yang keluar dari anak usia 20-an taon, menakjubkan.
Ato karena dia memujiku terlebih dulu🙂 .. entahlah.

Kembali beberapa taon yang lampau , aku begitu tertarik pada ajaran Yesus, Budha, Zen, Anthony de Mello, Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran, Manuskrip Celestine, Mahabarata Ramayana, Wayang, dan beberapa tokoh serta ajaran ketimur lainnya (sekarang sih tetep🙂 ) . Bagaimana mereka bisa berpikir dan bertindak seperti itu selalu membuatku tertegun. Beberapa teman disekitarku juga menunjukkan ketertarikan yang sama, meski tidak semua tokoh yang aku kagumi dia juga menyukainya. Terkadang kita saling debat siapa yang paling besar diantara yang lain. Perdebatan (untuk tidak dibilang ngegosip.. masak lelaki ngegosip sih..;) ) inilah yang sering menimbulkan pertanyaan sederhana, bagaimana mungkin seseorang bisa lebih baik dimata yang lain.

Gus DurGus Dur bagiku seperti seorang pandito, tetapi bagi orang yang duduk di sebelahku saat kereta bergerak dari Gambir menuju Tawang dulu, Gus Dur tak ubahnya seperti badut. Aku membawa buku Emha di tasku dan temen kantorku membawa Gajah Mada. Semua memiliki pandangan sendiri-sendiri dan berbeda terhadap tokoh tertentu. Hal yang umumnya dipengaruhi pengalaman masa kecil, lingkungan pergaulan saat ini, dan cita-cita masa depan.

Sebuah buku tentang Al Ghazali membuatku merasa bahwa tokoh ini tidak layak disebut sebuah tokoh besar. Meskipun buku tersebut telah berusaha menciptakan sosok hero seorang Al Ghazali, tetapi bagiku pola pikir dan tindakannya seperti yang dilukiskan dalam buku itu hanyalah sebatas kulit dan tidak menyentuh esensi kebaikan yang selama ini aku peroleh dari buku-buku yang aku baca. Imam Agung Al Ghazali hanya menjadi semacam badut yang kebetulan beruntung dipuja oleh jaman.

Badut bagiku dan hero bagi yang lain.

Buku berikutnya yang aku baca tentang Imam Agung ini menulis dengan cara yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula (meski gak beda jauh). Tetapi bisa menampilkan beliau sebagai sosok yang pantas dikagumi. Inilah akhirnya yang membuatku berpikir bahwa sebuah buku, terutama buku tentang seorang tokoh, hanyalah merupakan sudut pandang dari sisi pengarangnya. Yang belum tentu sama dengan yang dilihat ato yang ingin dilihat oleh pembacanya. Wawasan si penulislah yang membuat sebuah buku menjadi layak dibaca ato tidak. Seorang badut tentu akan melihat seorang tokoh dari leluconnya dan seorang petani mungkin melihat dari keterampilannya menanam. Sebab standar nilai-nilai (etika, moral, kesopanan) tertinggi yang bisa dicapai seorang penulis adalah dirinya.

So .. udahlah .. don’t judge a book by it’s cover .. juga jangan langsung  judge the person by his blog book  ……🙂

do not judge
be communicative !

Catatan :
Sebuah pembelaan diri ketika seseorang berkata bahwa aku telah mengenalmu dari tulisan-tulisanmu. Hehehe ..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s