Do not judge .. be communicative!

@nova
do not judge
be communicative

Sering sekali aku menggunakan tiga baris kalimat di atas sebagai signature ato tanda tangan di bawah email ato SMS ato comment yang aku tulis. Ada sebuah ujar-ujar yang bilang bahwa orang jika membaca buku psikologi cenderung menerapkan buku tersebut ke orang lain dan jika membaca buku kesehatan selalu melihat ke diri sendiri. Dan karena ketiga baris kalimat di atas bukanlah suatu resep ato nama obat ato nama penyakit maka dianggap sebagai kalimat psikologi dan orang cenderung menempatkannya kepada orang lain. Dalam hal ini bermacam kejadian yang pernah aku alami.

Saat aku mempunyai atasan yang kurang disukai oleh anak buah, maka temen-temen bilang kalo itu merupakan bentuk protesku kepada si boss. Itu suatu sindiran buat boss agar melihat fakta dan tidak asal “njeplak”, timpal yang lain. Jika signature itu ada pada email, ada aja yang tanya, buat siapa sindiran signature ku ditujukan. Bahkan ada yang langsung ambil posisi dan menjelaskan panjang lebar tentang si A dan sebab-sebab kenapa si A kurang disukai. (Lha sapa yang nanya?šŸ˜” )

Ada juga kejadian dimana seorang temen langsung minta maaf dan menjelaskan mengapa dia melakukan tindakan yang kemaren. Dan berharap “kita tetap berteman” dan menambahkan “masak begitu aja marah?” Tinggal aku yang bengong di depan SMS-nya. Kebetulan saat itu tiap kirim SMS aku selalu menggunakan signature tadi. Sejak kejadian itu SMS yang aku kirim tanpa signature.

finger

Menurutku signature tadi (aku lupa dari mana mendapatkannya) termasuk kalimat umum yang tidak menunjuk seseorang. Dan tidak seharusnya orang merasa tertunjuk. Ya minimal “be communicative” dulu lah ama diriku. Toh kalimatnya juga bilang begitu tho

Pada dasarnya makna signature ini hanya untukku pribadi sebagai penanda ato semacam tatto buat niat-niat yang aku inginkan. Juga sebagai “tamparan” karena tindakan-tindakan yang dulu pernah aku lakukan, terutama yang didasari emosi semata tanpa melihat fakta-fakta yang sesungguhnya.

Dulu enak aja menuduh orang sebagai si goblog, tanpa mencoba memahami kenapa si goblog bertindak seperti itu. Men-cap seseorang sebagai sok suci karenaĀ meski sembayang tetapi juga ke panti pijit. Dan lebih-lebih sering merasa paling benar karena orang lain melakukan sebuah kesalahan.Ā Itulah alasan dibalik signature tadi.

judge bookKata do not judge bagiku lebih menunjuk ke dalam. Jangan menghakimi diri (ku) sendiri terlalu keras. Lakukanlah yang (menurutku) terbaik dan bukan menurut pendapat orang adalah yang terbaik (buatku). Banggalah dengan diri sendiri.

Be communicative dengan kenyataan, jangan dengan ilusi ato mimpi. Terkadang apa yang kita liat tidak seperti yang terlihat. Terkadang kita merasa tidak sanggup padahal setelah dijalani ternyata sangat mudah. Berkomunikasilah dengan cara belajar sebanyak-banyaknya. Serap sebanyak mungkin pengalaman sebagai bekal untuk menghakimi mengambil putusan.let's talk w/ trust

Tetapi kejadian-kejadian di atas juga menyadarkan bahwa orang cenderung merasa bahwa tindakannya selalu dilihat orang lain. Aku menyebutnya ge-er negatif. Selalu berpikir bahwa dirinya melakukan kesalahan. Dan nampaknya banyak sekali orang-orang seperti ini. Ada seorang temen yang merasa boss sedang marah sama dia karena dah lama tidak diajak makan siang. Aku yang kebetulan tau persis kesibukan boss langsung heran.

Juga pernah suatu sore, seorang kodektur di KRL Ciujung tidak menagih karcis kepada 2 orang penumpang kereta api, karena penumpang tersebut memang tidak membeli karcis. Kebetulan aku pas melihat ke arah kondektur tadi, bertatap mata, dan langsung aku menyadari bahwa posisinya sangat rumit. Mo nagih tapi galakan penumpangnya, tanpa sadar aku menggeleng kepala melihat tindakan si penumpang. Tetapi tanpa berkomunikasi tentu tidak mungkin si kondektur bisa mengerti maksudku. Gelengan kepalaku nampaknya dipahami sebagai mencela tindakannya, sehingga kemudian dia berbalik badan untuk berusaha menagih karcis si penumpang, dengan lebih gigih.

So nampaknya suatu kalimat (ato tindakan) mampu menjadi seperti pisau dengan dua sisi. Mampu mendorong semangat tetapi saat bersamaan juga mampu mengkerdilkan jiwa. Akhirnya .. coba kita lihat .. dari kedua sisinya.

Do not judge … diri sendiri terlalu keras; dan juga
Do not judge … orang lain tanpa dasar.
Be communicative … dengan kemampuan diri sendiri; dan juga
Be communicative … melihat alasan dibalik tindakan seseorang.

Nah.. kira-kira berguna gak ya artikel ini … ato gak ada yang baca ? Jangan-jangan ada yang marah trus gak kasih comment.. ato … ;D

halah:mrgreen:

2 responses to “Do not judge .. be communicative!

  1. Hihihi, kalau saya dari dulu kasih signature di sms paling mentok cuman URL sama alamat email doang.

    # iya .. pelajaran yang mahal buat saya

  2. Artikelnya bagus dan berguna… bagi yang bacašŸ™‚

    Tapi bagus atau tidak, kan bukan dengan parameter komen. Kalimat terakhir itu sudah mendekati judge loh, hihihi.

    Aku juga punya signature email yang masih aku pake sampe sekarang: Assholihatu Lissholihin.

    Saking banyaknya yang nanya, sampe aku buatkan postingan di blog ^^

    Salam kenal,

    *nah lho, kenal-e kari*

    # makasih dah mampir mas.. geer nih jadinya .. oh ya artikel huruf jawanya aku sadur ya.. dan artikel sible dan mada nya keren abissss.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s