Diam … sebuah nasehat yang sangat berharga

Sebuah cerita :
Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup. Anak laki-laki tersebut dibawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan di buka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut, jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menagis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut. Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.

Ketika cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. Sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Sebuah cerita indah yang mengajarkan tentang kedewasaan.
Tetapi bukan ini yang ingin aku bagikan.

Coba kita ganti, dalam cerita tersebut, kata “anak laki-laki” dengan “aku” dan kata “ayah” dengan “teman”. Sudah ?

Cerita tadi akan menjadi sebuah cerita tentang “teman” yang membiarkan “diriku” menjadi dewasa bukan dengan cara menolong kesulitan yang kuhadapi tetapi membiarkan aku untuk menghadapinya.

Hal seperti inilah yang baru saja aku alami.
Dalam satu kesempatan, seorang teman menyampaikan bahwa aku ditunjuk untuk melakukan tugas tertentu. Aku menolak. Pertama, aku belum pernah mencobanya. Kedua, aku tidak biasa melakukan hal seperti itu. Ketiga, aku tidak yakin bisa melakukannya. Keempat, .. kelima, .. dan seterusnya.. sudah aku ungkapkan kepada temanku. Aku harap bahwa dia akan menyampaikan kepada orang yang berkompeten sehingga acara akan berlangsung lebih bagus jika bukan aku yang harus melaksanakan tugas tadi. Teman tadi mendengarkanku dan hanya berkata bahwa dia yakin aku bisa melakukannya.

Berulang kali alasan itu aku sampaikan kepadanya tetapi dia tidak menanggapinya lagi dan malah membicarakan hal lain. Demi kebersamaan, aku tetap menemaninya mempersiapkan acara tersebut. Dan tugas yang dibebankan kepadaku tetap tidak diubah. Dia tidak menyinggung tentang “tugasku” tadi dan tidak membicarakannya. Padahal dia jagoan di bidang itu dan tentunya akan dapat memberikan kita-kiat dan nasehat agar aku dapat melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya. Saat itu, aku merasa ditinggalkan sendiri.

Menjelang hari H, … aku semakin panik.

Pada hari yang ditentukan, aku melaksanakan tugas tadi. Aku hanya berharap bahwa aku tidak mengacaukan tugas ini dan ingin acara cepat selesai. Acara berlangsung meriah (menurutku) dan ada banyak sukacita disana. Semua bergembira. Dan tau nggak .. aku menikmati tugas tadi 😳
Dan teman tadi dari awal sampai akhir ada di sisiku. Diam, tersenyum.

Kejadian ini mengajarkan aku bahwa “diam” menjadi suatu cara terbaik yang dilakukan temanku untuk mejawab “masalah” yang kuhadapi. Sepotong nasehat yang mungkin terucap dari bibirnya mungkin akan menenggelamkanku ke dalam ke-putus asa-an dari pada mengangkat bebanku. Diam yang dilakukannya lebih dari seribu nasehat yang mungkin diucapkan orang lain jika hal yang sama aku keluhkan. Sepotong nasehat hanya berguna saat aku orang siap untuk menerima nasehat tadi. Terimakasih atas pelajaran ini.

“Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.”

Teriring salam buat Anita Agustina dalam acara Paskahan DJP.

One response to “Diam … sebuah nasehat yang sangat berharga

  1. wow

    hebat juga yah mas sudut pandangnya dalam menilai segala sesuatu.

    btw, mnurutku ada juga loh mas tipe teman yang senantiasa mendoakan keberhasilan temannya tanpa sepengetahuan si teman yang didoakan.
    misalnya pas mas nyanyi di depan kemaren, aku dari belakang doain loh..

    (macam betoooool aja)

    # doain apa nih …? makasih ya re ..kamu salah satu yang membuatku selalu ketawa saat kita latian PS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s