Pelajaran di balik kenaikan harga BBM

Kenaikan harga BBM dibuktikan sudah. Akhirnya dengan ke-tambeng-annya pemerintah tetap menaikkan harga BBM meskipun banyak yang menolaknya. Banyak orang makin susah, kemiskinan makin banyak, pemerintah tidak peka, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Penunggang alasan dibalik kenaikan harga BBM juga gak kalah banyak, mengatasnamakan penderitaan rakyat mulai mengecam orang lain, menyalahkan orang lain seakan jika dia yang memimpin maka harga BBM gak akan dinaikkan, mulailah era dimana dia salah dan aku benar. Nah sekarang saatnya pemain politik bermain.

Semua perdebatan tentu mengundang emosi jika kita tetap berpandangan bahwa kita benar dan dia salah. Kita dikelompok pandai dan dia dikelompok bodoh. Tetapi sebuah perdebatan tentu akan semakin memperkaya kita jika kita mau belajar dan mau memahami kenapa orang bisa berbeda pendapat dengan kita. Inilah waktu yang tepat untuk memahami sesuatu dari sudut pandang yang baru. Belajar dari kenyataan hidup.

Beberapa hal baru yang aku dapat dari perdebatan tentang kenaikan harga BBM antara lain :

1. Puchasing Power Parity (PPP)
ppp
Iklan Wiranto tentang kemiskinan penduduk Indonesia sesuai data Bank Dunia sebesar 49,5% banyak dipakai sebagai dasar bahwa rakyat miskin akan semakin miskin jika BBM dinaikkan. Beberapa demo mengusung angka ini, hasil pencarian atas angka dari Bank Dunia ini menunjukkan sesuatu yang menarik yaitu bahwa angka 49,5% merupakan jumlah penduduk dengan standar daya beli masyarakat kurang dari 2 dolar US per hari PPP. Angka US$2 PPP digunakan agar bisa diperbandingkan antar negara yang tergabung dalam World Bank. Dalam perbandingan antar negara digunakanlah nilai tukar US$ padahal nilai riil uang sebesar 2 dolar di negara maju dan di negara berkembang sangat berbeda dengan demikian nilai belinya juga berbeda. Dasar pengukuran dalam PPP bermacam-macam umumnya berupa kebutuhan pokok yang bisa dikonsumsi masyarakat, semisal telur ato Big Mac (Mac-D). Berapa peringkat Indonesia jika diliat dari PPP bisa diliat di sini. Laporan Bank Dunia bisa di donlot disini. Pelajaran penting, bahwa iklan -apalagi iklan politik- jangan ditelan mentah-mentah.

2. Indonesia net Importir Minyak
net importirEksportir minyak seperti Indonesia kok terpengaruh pada harga minyak dunia? Harusnya untung dong.Ternyata sejak tahun 2004 Indonesia sudah bukan lagi negara pengekspor minyak murni, karena kebutuhan minyak lebih tinggi dari pada konsumsinya. Sebagian dari kebutuhan ini diperoleh dari Impor. Bahkan karena sudah net Importir ini maka dengan kesadaran sendiri keluar dari OPEC pada tahun ini. Sebenernya Indonesia pun masih mengekspor minyak, karena minyak kualitas Indonesia lebih bagus maka diekspor ke luar negeri, dan kemudian impor minyak mentah dengan kualitas yang sesuai dengan kilang minyak di Indonesia. Maksudnya kilang kita gak bisa ngolah minyak kualitas bagus ya? Hus.. jelas😀

3. Minyak tidak sama dengan premium

rupa-rupa hasil dari minyak mentahSelama ini kupikir minyak yang ditambang dari perut bumi cuma perlu sedikit pengolahan untuk menjadi bahan bakar kendaraan ternyata tidak sesederhana itu. Minyak mentah setelah diolah ternyata cuma sekitar 50% yang menjadi bensin yang lainnya minyak tanah, aspal, pelumas, dan beberapa produk sampingan yang terkadang tidak bernilai.

4. Subsidi dan Perhitungannya
Subsidi bukan merupakan uang keluar. Negara mempunyai minyak dari bumi (bukan beli) dan dengan biaya pengolahan yang kecil maka negara tetap untung pada berapa pun harga yang dijual ke rakyatnya. Pernyataan ini tentu sering kita dengar akhir-akhir ini terutama di koran internet. Sudah banyak bantahan atas tulisan itu misalnya disini dan disini, bahkan terkadang tidak dimuat di kolom komentar atas artikel di koran tersebut. Yang mungkin perlu dipahami adalah kalimat subsidi ada dan dihitung di dalam APBN, di bagian Pengeluaran Negara. Dalam kontek ini musti dibaca sebagai pencatatan akuntansi dimana harus diperbandingkan antara Pendapatan dan Pengeluaran (Accounting Principles : Matching Cost Again Revenue).

5. APBN dan APBN-P
Masih ada banyak jalan untuk tidak menaikkan harga BBM. Nasionalisasi perusahaan minyak asing, kejar koruptor BLBI, berantas korupsi, sewain pulau, dan lainnya. Intinya pemerintah belum mencoba beberapa alternatif kok malah menaikkan minyak. Tentu saja semua benar tetapi yang juga harus diliat dalam kehidupan kenegaraan adalah peraturan perundang-undangan. Dari sekian alternatif yang ada Undang-undang APBN-P yang memberi celah bahwa harga BBM bisa dinaikkan jika harga minyak dunia mencapai US$100/barrel, liat pasal 7 dan pasal 14 ayat 2 UU APBN-P 2008. Dan kata siapa menyelamatkan APBN bukan menyelamatkan rakyat? Baca disini.

6. Penjelasan Pemerintah
Dalam keadaan negara serba tidak jelas seperti saat kenaikan BBM kemaren, terbayang satu sosok yang selalu muncul memberi penjelasan kenapa pemerintah melakukan hal ini, hal itu, dan hal apapun. Harmoko, si hari-hari omong..😀 Tetapi kemaren Ibu Mulyani dengan analogi anak demam mampu sedikit menjelaskan kenapa opsi kenaikan ini diambil. Dan akhirnya meski terlambat ada juga penjelasan dari pemerintah seperti tercantum disini.

7. Penjelasan versi Malaysia
Beberapa pendapat soal BBM menyinggung tentang negara lain yang tidak terpengaruh dengan kenaikan harga BBM semisal Iran, Venezuela, Brunei, Arab Saudi, Mesir, dan Malaysia. Udah banyak berita tentang demonstrasi yang dilakukan rakyat suatu negara karena kenaikan harga BBM dinegaranya, termasuk berita di enam negara diatas. Mungkin file penjelasan mengenai subsidi kerajaan dan subsidi dan kenaikan harga barang bisa sedikit membantu memahami dari sudut pandang pemerintah negara lain.

8. Pajak juga Solusi
Semua penolakan atas kenaikan harga BBM hanya berkisar tentang kemiskinan dan tindakan pemerintah. Tidak banyak yang membahas tentang peningkatan penerimaan pemerintah terutama dari sisi pajak. Jika harga BBM tetap rendah tentu semua hepi kecuali pemerintah. Jika BBM dinaikkan pemerintah hepi, dan rakyat tidak (meskipun jangka panjangnya hepi juga). Tetapi jika pajak dinaikkan ato digenjot, maka semuanya hepi. Pemerintah tentu akan mendapatkan banyak tambahan penerimaan jika pajak digalakkan. Jumlah orang yang terdaftar sebagai Wajib Pajak dan mempunyai NPWP hanya sekitar 5 juta dari 230 juta penduduk Indonesia. Jika saja semua penduduk yang seharusnya termasuk dalam kriteria Wajib Pajak (baik karena kewajiban subyektif ato obyektifnya terpenuhi) membayar pajaknya tentu pendapatan negara akan membesar dengan seketika, pemerintah akan hepi. Tetapi apakah rakyat akan hepi, tentu saja. Lho kok bisa? Ya karena emang itu sudah kewajibannya, yang tidak mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak umumnya karena ketidakmauan dan ketidak pedulian bahwa sebenernya dia sudah termasuk dalam kriteria harus terdaftar dan membayar pajak. Jadi istilahnya emang sudah seharusnya dan bukan merupakan beban tambahan. Kebijakan Sunset Policy yang udah diberlakukan taon ini hendaknya bisa dijadikan momentum untuk membantu mengentaskan kemiskinan dengan membayar pajak.

9. Hemat Energi
Lho apa hubungannya dengan BBM ? Jelas ada. Hemat energi termasuk didalamnya hemat BBM, listrik dan air. Dengan hemat BBM berarti mengurangi jumlah BBM yang dikonsumsi yang berarti akan mengurangi beban subsidi. Lalu, listrik di Indonesia dipasok oleh pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar gas, minyak (diesel) dan batubara. Penggunaan bahan bakar minyak jelas merupakan konsumsi BBM sehingga jika kita hemat listrik tentu akan mengurangi penggunaan bahan bakarnya. Halah kejauhan Dit.. apalagi hubungannya dengan hemat air? Hehehe.. maap, tadi kan kita dah ngomongi tentang APBN dan penyelamatannya, trus untuk menaikkan sisi Pendapatanya sudah disinggung dikit yaitu pajak, nah sisi Pengeluarannya itu ada Subsidi, Dana Bagi Hasil, dan juga Belanja Negara. Belanja negara itu termasuk didalemnya pembayaran listrik, telepon, dan air di kantor-kantor pemerintah. Nah sesuai edaran dari kantor pusat, kita disuruh hemat energi, gak tanggung-tanggung minimal 60% dari bulan sebelumnya. Karena ingin supaya beban listrik, air, dan telepon itu hemat, sekarang di kantor AC cuma nyala dari jam 08.00 sd 16.30, lampu banyak yang digelapin terpaksa jendela dibuka supaya ada cahaya, telpon cuma buat urusan kantor, lift cuma nyala satu dan yg mau naik turun 2 lantai diharuskan pake tangga, nah lho.. tersiksa kan. Makanya aku baru sadar kalo hemat energi itu ternyata ngaruh ke Subsidi BBM ya😀😀 jadi malu😳 Eh barusan dapet contoh lagi nih dari Pakistan.

Nah ada sembilan angka pelajaran dibalik kenaikan APBN bagi aku secara pribadi. Meski begitu tetep aja kenaikan harga BBM yang berefek ke biaya transpor, harga kebutuhan pokok dan lainnya menyebabkan kita butuh pengelolaan keuangan yang canggih. Pinggang dah hampir putus karena ikat pinggang yang semakin diketatkan. Tapi kita musti tau cara mengikat pinggang yang baik dan benar dong. Nih aku pernah dapet kiriman file tentang pengelolaan keuangan keluarga. Ayo sapa butuh unduh aja disini. Moga berguna. (File ini aku dapat lewat email dan tidak tau sapa yang bikin jadi berterimakasihlah sama yang bikin).

Baca juga : http://rovicky.wordpress.com (makasih atas gambar-gambarnya)
Berkas di unggah :
1. APBN-P 2008
2. Penjelasan kenaikan BBM Indonesia
3. Penjelasan kenaikan BBM Malaysia (1,2)
4. Laporan dari World Bank 2007
5. Perhitungan keuangan pribadi (ganti extensi DOC dengan XLS)

9 responses to “Pelajaran di balik kenaikan harga BBM

  1. sedih, mas, kalau mikirin kenaikan BBM. Yang pasti dampaknya sangat berpengaruh terhadap harga2 kebutuhan pokok. siapa lagi kalau yang ndak njerit kalau bukan rakyat kecil, meski ada kompensasi lewat BLT. makanya, kalau ada yang bilang indonesia keluar saja jadi anggota OPEC, itu malah akan lebih bagus. sekarang negeri kita kan jadi pengimpor minyak. lagian nggan ada untungnya buat kemajuan bangsa. *eh, nyambung nggak yah?*

    # kalo dicari untungnya pasti ada pak. pasti ada plus minusnya. saya seneng ama pendapat mas suluh yang berani bilang bahwa indonesia udah di right track. dan saya mendukungnya. moga semua yang terjadi sekarang baik untuk kedepannya.

  2. yang aku sukai postingan mas nin ini selalu pakai rujukan yang lengkap. mantap dan ok banget!

    # begadang ya pak? kok jam segini masih online😀

  3. Info yang sangat komprehensip…thanks.
    Kemarin, setelah seminggu tak jalan-jalan, saya dan anakku ke PIM, ternyata disana berjubel orang yang lagi jalan-jalan. Komentar anakku, kok terasa ga nyambung ya, di luar orang ribut demonstrasi BBM naik, kenyataannya yang jalan-jalan disini banyak sekali. Sehari dan dua hari setelah kenaikan BBM, di pasar tradisional juga masih rame…jalan tetap macet…..

    Bedanya di PIM sekarang agak gelap, tak semua lampu dinyalakan…Kemarin ke PIM sebetulnya mau cari bukunya pak Sawali, ternyata belum ada di Gramedia.

    # seperti yang ibu tulis, orang Indonesia itu lentur kok bu🙂 eh, kalo ada orang makan di fastfood sedang dibalik dinding kacanya ada pengemis (entah bener ngemis ato pura-pura) itu termasuk kriteria lentur bukan bu?

  4. teuteup ya mas…
    P2Humas mode ON

    # ah aku belum sampai cerita beban kerjaku kok.. *lirik akumulasi mei*

  5. hmmm… gitu ya.
    seandainya para pakar ituh berpikir dengan bijak dan tidak dibelenggu oleh nafsu politik semata, oh indahnya.
    soal pajak, saya termasuk pembayar pajak setia. saya dan istri berNPWP, tiap hari saya bayar pajak cukai rokok, kalo ada proyek selalu mbayar pajak walau sedikit bermain akal-akalan biar gak gedhe bayarnya. tapi akal-akalan sah lho… kan ada teknik pembelanjaan supaya gak kena pajak… hehehehhe…

    # makasih mas dah punya NPWP. banyak yang belum lho.. soal teknik gak kena pajak ada 2 macem mas, tax planing dan tax avoiding. selama gak melanggar hukum silaken aja ..😀

  6. wah datanya lengkap banget Mas
    makasih banget nih bisa dolan nyambi sinau

    # lha saya ini juga lagi sinau mas.. apalagi saya pernah minta jadi murid mas tommy malah disuruh liat itik😀

  7. Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com
    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/pelajaran_di_balik_kenaikan_harga_bbm

  8. halo nindityo. sedikit komentar ttg penggunaan data world bank utk mengukur kemiskinan. perhatikan baik2 grafik tsb. angka BPS yg setara dg US$ 1,5 PPP vs US$ 2 PPP atau setara Rp 160 rb-an/bln/kapita vs Rp 190 rb-an/bln/kapita. jadi sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh. tapi knp selisihny begitu besar? artinya masy kt yg dekat dengan kemiskinan begt besar. pesan iklan wiranto sangat kena menurut sy. sy pernah menulis ini di blog http://www.starbuckerseconomist.blogspot.com

    # saya setuju pendapat mbak letjes, bahwa masyarakat dekat dengan kemiskinan. file yang saya sertakan sebagai rujukan, dari World Bank juga menjelaskan cara membaca angka-angka tersebut (bdk: hal xi). fokus disini adalah PPP ato Purchasing Power Parity, suatu istilah yang fresh bagi saya. selain itu saya rasa naif kalo memperbandingkan % kemiskinan berdasarkan cara perhitungan yang berbeda. btw, blognya bagus, apalagi didukung banyak pemikir muda cemerlang. makasih tanggapannya.

  9. Kenapa harus tergantung kepada BBM, untuk energi transportasi ?
    Bukankah masih bisa pakai energi listrik, surya, dll. buat energi transportasi Percuma BBM dinaikan, nanti juga akan naik lagi, demo lagi, politik bergejolak lagi, naik lagi, demo lagi, gejolak lagi…., terus …. dan terus…. Sebaiknya BBM dilepas saja sesuai harga pasar. Karena memang minyak dunia sudah mulai berkurang sedangkan permintaan terus naik tajam.
    Mumpung masih mampu subsidi ;
    Sebaiknya 100% subsidi dialihkan untuk mempersiapkan diri krisis global energi BBM. Dengan membangun PLTA, Geothermal, tenaga surya, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s