Monthly Archives: Juni 2008

Ketika hidup harus memilih

Ada satu cerpen yang pernah aku baca, mengisahkan tentang pergulatan batin dari seorang perempuan terhadap dua orang lelaki muda. Perempuan itu dipaksa harus menjatuhkan pilihan pada salah satu dari dua orang lelaki, yang sama-sama mencintainya, yang sama-sama sudah dikenalnya, dan sama-sama disukainya. Pilihan yang tentu saja sulit, karena perempuan itu sudah mengenal betul sifat keduanya. Sudah paham kelebihan dan kekurangan masing-masing pribadi. Ketiganya sudah terikat dalam hubungan akrab yang sadar bahwa persahabatan mereka akan segera diuji dengan keadaan ini.

Akhirnya perempuan tadi melabuhkan pilihannya pada salah satu lelaki. Dengan satu alasan, satu alasan yang absurd, mungkin terasa aneh, tidak membumi, dan mengherankan. Satu alasan yang mungkin kita akan tertawa mendengarnya ato mencibir karenanya. Yaitu bahwa lelaki yang ditinggalkannya mempunyai satu kelebihan dibanding lelaki yang dipilihnya. Kelebihan nya lah yang menyingkirkannya dari arena.

Apa kelebihannya ?

Iklan

Indonesia Bisa : Kekuatan Pita Biru

Beberapa hari ini ada iklan Indonesia Bisa, masih bertema 100 tahun Kebangkitan Nasional, yang sering tayang di televisi. Yang pertama tentang perbuatan seorang anak yang memungut satu sampah dan kemudian perbuatan itu diikuti oleh tindakan yang sama oleh satu orang, dan satu orang lagi, menjadi beberapa orang, dan kemudian menjadi sebuah perbuatanyang besar karena setiap orang melakukan satu “perbuatan kecil” yang sama.

Berikutnya tentang satu senyuman yang di rekahkan dari dari satu bibir di pagi hari yang kemudian membuat orang yang menerima senyum itu juga tersenyum, membawa kegembiraan dari satu senyum itu kepada yang lain, yang kemudian saling menyebarkannya pada orang yang dijumpai, dan pada akhirnya membawa keceriahan pada setiap orang sesepanjang hari.

Iklan yang indah tentu saja. Dan penuh makna. Terlepas bahwa iklan itu gak beda dari slogan “Bersama Kita Bisa” yang sering diucapkan partai pendukung pemerintah sekarang. Tetapi bahwa perbuatan yang kecil yang kita lakukan, semisal senyum tadi, ternyata membawa pengaruh besar pada orang-orang sekitar kita tentu mencengangkan. Apalah arti satu sampah yang dipungut dijalanan jika dibandingkan tumpukan sampah di Bantargebang. Apalah artinya senyum? Gratis. Bisa diberikan kapan saja. Tetapi ternyata semuanya ternyata bisa membawa pengaruh baik bagi banyak orang, sepanjang hari !!

Trus, gimana cerita pita birunya ?

Kopdar dengan Fertob di Monas (Montob)

Undangan yang disebar tante cK dan kang Kombor bahwa akan ada kopdar di monas sehubungan dengan melepas keperjakaan kepergian abang Ferry Tobing dari Jakarta membuat semangat. Belum juga ilang rasa seneng kopdar terakhir dah disusul kopdar ini. Langsung kontak beberapa temen untuk ngajak dateng bareng. Akhirnya sepakat aku ma Novi, temen satu almamater Fertob, mo dateng kesana.

Tiba-tiba paginya Novi bilang gak bisa. Alasannya sakit kepala karena masuk angin. Aku desak-desak akhirnya diusahakan kalo sakitnya gak tambah parah. Tapi jam 13.15, Novi SMS lagi dan bilang tetep gak bisa dateng. Malah semepet kirim MMS photo najis narsis punggung dia dengan bekas kerokan yang merah-merah itu.

“Sori, Dit. Beneran gak bisa.”
“Ya gapapa Nov, namanya juga sakit”
“Salam aja buat Fertob”
“Siap, ntar aku tunjukin photomu ya ama dia. Boleh?” 👿
“Boleh aja”

Berangkatlah dengan tergesa-gesa.. jam 14.15 dah sampe monas. Ada apa disana ?

Masih adakah orang baik di Jakarta

“Ya pak.., tadi saya menemukan handphone di taksi.”
“Wah terimakasih pak, itu handphone saya, dimana saya bisa ambil pak?”
“Dateng aja ke sini, di Plasa Telkom Gatot Subroto.”
“Baik pak, saya langsung kesana? Di lantai berapa pak? Dengan Bapak siapa?”
” Jika sudah sampai di lobi, telpon saya lagi. Nanti saya turun.”
” Baik pak.”

….

“Pak, saya Didit yang tadi menelpon Bapak, saya sudah sudah di lobi.”
“Baik pak, saya akan turun.”

….

“Wah, pak Didit ini handphone nya. Tadi saya mo kasih ke sopir taksinya tapi takutnya malah hilang.”
“Terimakasih sekali pak. Ini memang handphone saya. Terimakasih pak.”
“Sama-sama mas. Maaf tadi tidak saya angkat, baru sadar ternyata bunyi handphone yang saya temukan. Ya sudah kalo begitu saya naik lagi.”
“Pak ini ada sedikit buat Bapak.”
“Nggak usah mas, udah saya naik ya.”
“Makasih banget pak. Maaf boleh saya tau nama Bapak?”
“Saya Dian mas. Udah ya.”
“Makasih pak Dian.”

….

“Udah gitu doang ?!”
“Iya, gak mau duit, gak nanya KTP, gak nanya kerja dimana. Ketemu langsung kasih hape dan balik lagi ke ke atas, mungkin ke kantornya.”
“Gila ya.. Jakarta gitu lho.. masih ada orang seperti itu”

Lho emang ada apa ya ?

Hikmah Minyak Naik di Negeri Jiran (Butterfly Effect)

Terkejut .. heran ..

Iya.. terkejut sekaligus heran sewaktu buka wordpress kemaren (Kamis, 05-06-2008 ) dan ternyata ada sekian banyak (buat yang lain sih gak seberapa 😀 ) yang mencoba akses blog sampah ini. Namanya blog baru, 10 ato 20 orang per hari cukuplah untuk silaturahmi tetapi sampai 385 orang tentu bikin kaget. Virus kah? .. bisa jadi. Pikir punya pikir, dan dari pada cuma bikin pipi sendiri bersemu (maksudnya narsis, red) maka aku coba analisa sendiri sebab-sebabnya.

Flowchart

Selama ini kata kunci paling banyak yang masuk ke tempatku adalah “apple”, satu kata dan dalam bahasa inggris pula. Sehingga dapat dimaklumi jika orang bule ada banyak yang kesasar masuk kemari.

Tetapi kemaren langsung muncul dua kata, iya.. dua kata nyambung : “minyak naik” , bukan “minyak” saja ato “naik” saja, tetapi langsung “minyak naik”.

Istilah itu langsung menduduki peringkat pertama istilah mesin pencari untuk masuk ke blog ini. Tidak maen-maen .. 242 buah dibanding yang lain yang cuma 2 ato 3 buah.

Perujuk untuk link menuju blog ini juga tidak menunjukkan sesuatu yang menonjol, bahkan bisa dibilang tidak banyak aktivitas hari kemaren. Apalagi didukung fakta bahwa aku biasa post tulisan baru tiap hari Sabtu ato Minggu sehingga umumnya pada pertengahan minggu jumlah pengunjung menurun.

Berarti ada suatu kejadian tertentu di dunia ini yang menyebabkan blog ku mengalami keanehan.

Usut punya usut, ternyata jawabannya ada di sini. Kenaikan harga minyak di negeri jiran Malaysia yang menyebabkan orang banyak menggunakan kata kunci “minyak naik” dan nyasar di blog ini. Nampaknya kenaikan harga minyak di sana menyebabkan orang berupaya menemukan alasan dibaliknya. Padahal minyak jelas bukan bidangku, heran kalo kata bang Fertob.

Atas keanehan yang terjadi di blog ini dan kekecewaan yang mereka dapat ketika kesasar masuk kemari dengan ini aku sampaikan bahwa aku bukan sapa-sapa di bidang minyak. Pak Rovicky lah jagoannya, juga enak dipahami gaya penyampaiannya. Gimana gak enak lha wong kita seperti disuguhi dongeng (tapi gak sampai tertidur). Dan karena enak dongengnya itulah dia sampai diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari AAPG (American Association of Petroleum Geologist). Ayo dukung dia sebagai putra Indonesia. 😀 Maju terus pak Rovicky.

Oh ya, tadi belum disinggung Butterfly Effect nya ya 🙄 . Efek Kupu-kupu disini adalah bahwa suatu kejadian (sekecil apapun) di tempat yang jauh sedikit banyak akan berpengaruh (langsung maupun tak langsung) dengan kita. Dalam hal ini kenaikan harga minyak di Malaysia berpengaruh ke blog sampah ini. Apalagi tulisan dan tindakan kita yang dibuat dengan satu tujuan yang jelas dan berguna, sedikit banyak pasti akan mempengaruhi orang untuk berbuat baik dan lebih baik lagi. Begitu .. 😀

Selamat berlibur akhir pekan.

nDeso banget seh ..

nDeso, biasanya dipake untuk menyatakan bahwa suatu tindakan bersifat terbelakang dan tidak tau malu. Si Tukul Arwana yang paling ganteng sejagat itu sering mengatakan kata ndeso. Padanan yang sama dengan kata nDeso adalah Katro. Penggunaannya kata ndeso sekarang sudah tidak bersifat suatu tindakan tetapi juga wajah. Dan wajah ndeso tentu suatu ejekan yang dalem karena sukar diperbaiki meski sudah dilapis dengan bermacam riasan. 🙂

Ndeso tentu saja disematkan pada orang yang tinggal di kota, lha wong untuk merendahkan martaba je. Tapi tentu tidak berarti yang dilakukan orang desa tidak baik tetapi ini toh hanya ungkapan, hanya makian. Hampir mirip dengan makian (mirip) kere, bajingan, ato setan ya intinya merendahkan. Tetapi jika sikap perilaku ndeso ini terbentuk dari ketidaktauan ato ketidaksadaran ato kelalaian gimana dong 😀 Ya tetep aja dibilang ndeso 😀

Pernah bersikap ndeso?

Sapa sih yang gak pernah. Aku sering tuh. Yang masih keinget ketika pertama kalinya naik kereta Parahyangan ke Bandung, karena terpesona dengan keindahan pemandangan sepanjang perjalanan, aku sering menunjuk-nunjuk ke jendela, ada jembatan Belanda, ada sawah, ada lereng semua aku komentarin. Sampai akhirnya temen perjalananku bilang, diem napa sih Dit, ndeso banget 😀 Lho, lha wong terkesima je, kok dibilang ndeso. 😀

Pernah suatu kali temenku yang mendengar ceritaku menimpali. Dia biasanya bawa si cewek (saat masih pacaran) ke desa, di daerah Tegal sana, cuma setengah hari, singkat, dan tidak kemana-mana. Cuma di rumah ngobrol ama orang tua temenku. Seminggu setelah kawin barulah mereka agak lama di desa, 3 hari. Paginya, mereka jalan-jalan, ke pematang sawah. Romantis pokoknya, masih menebar senyum pada orang-orang yang lewat, maklum penganten baru.

Ketika sampai di sawah, istri temenku tadi bertanya pada suaminya, eh itu yang ijo-ijo taneman apa? Kok bagus banget, kayak rumput ya ..
Suaminya melihat yang ditunjuk istrinya dan cuma tersenyum sambil terus berjalan. Sewaktu bercerita, dia nanya ke aku, tau gak Dit, taneman apa yang ditunjuk istriku saat itu?

Jawabnya apa coba? Gak tau… 😀 … Padi !
Wah, aku langsung geleng-geleng mendengarnya. Padi, ndeso ato ngota ya 😀 Masak padi aja gak tau, lha selama ini emang makan apa? 😀

Pengalaman temenku lain lagi, dia cewek. Karena sangat kepengen ketemu keluarga pacarnya, setelah merengek-rengek, akhirnya berangkatlah mereka berdua ke suatu desa di daerah Simo, Boyolali. Naik bis disambung jalan kaki, pake nyebrangin sungai lagi. Kesempatan gendong-gendongan. Wah pokoke seneng banget. Lha wong belum pernah ketemu sungai selebar dan sebesar itu. Sesampai di rumah sang pacar tentu saja bikin heboh. Anak laki di desa bawa perawan, wah tentu saja bikin repot. Semua kemewahan desa disajikan. Jagung rebus, tape ketan, tiwul, dan tak ketinggalan singkong bakar. Dicabutlah singkong terbesar yang ada untuk sang tamu istimewa tadi. Singkong bakar biasanya dibakar di tungku yang masih menggunakan kayu bakar. Tungkunya mirip-mirip ama gambar disamping. Biasanya singkong dimasukkan berdesakan dengan kayu bakar. Dan ditunggui manual, yang duluan masuk ya duluan dikeluarkan. Proses pembuatan singkong bakar yang tanpa ditaburi bumbu tentu hanya menghasilkan singkong yang tawar tanpa rasa. Dan tentu saja seret. Musti bayak minum. Kebetulan yang ada adalah teh pahit. Temen tadi mulai berpikir, jika saja singkong ini ditabur gula pasir tentu lebih enak. Mau minta ama tuan rumah kok kayaknya manja, tapi kalo tidak ditabur ya kok gak manis. Dan mulailah mengendap-endap ke dapur mencari gula pasir.

Di desa tadi, gula pasir masih merupakan barang langka mewah. Umumnya memakai gula batu ato gula aren. Dan karena kemewahan itulah biasanya disimpan dalam wadah khusus. Berbekal pengetahuan ini, temenku mulai gerilya mencari gula pasir. Waktu mahgrib, saat sudah gelap dan petromaks belum mulai dinyalakan, adalah saat yang tepat. Siap-siap.. dan mulai mencari. Ketemulah satu toples di atas rak dapur, tuang dikit di lepek (piring kecil, red). Dan segera lari ke kamar. Misi sukses besar. Orang kota, pikirnya bangga, banyak akal dong. 😀

singkong, ketela pohong, ubi kayu, pohongSingkong bakar dikupas, dan langsung di tutulkan ke gula pasir tadi. Dalam keremangan senja, singkong digigit, dikecap rasanya dan… pahit sodara-sodara. Wah bener-bener singkong tua, gula sedikit tidak mampu memaniskan rasa. Dan diulangi dengan porsi totolan gula yang lebih banyak. Masih pahit. Malah semakin lama semakin pahit dan lidah serasa lengket. Penasaran di deketkannya piring kecil berisi gula tadi ke deket teplok, dan ternyata RINSO. Pantesan pahit..

Buru-buru lari ke kamar mandi untuk berkumur. Dan inilah masalah terbesar dia, Rinso ketemu air dan dikumur, tentu saja mumpluk.. berbuih. Dia bilang saat itu hampir nangis saking malu dan bingung dengan ke-ndeso-annya itu. Pahit di mulut, dikumur berbuih. Di bersihin pake handuk masih pahit dan dikumur berbuih lagi. Gimana dong …

😀 Wah jangan ditanya perasaanku ketika mendengar ceritanya 😀 Ngakak gak abis-abis.. Ini salah satu cerita yang selalu aku reply dalam memori ketika aku sedang malu karena melakukan tindakan ndeso, ato ketika sedang sedih. Suatu pengalaman yang asyik untuk selalu dikenang (dan di ceritakan ke orang lain tentu saja) 😀 😀 😀

Kamu punya pengalaman ndeso?